Minggu, 24 November 2013

Kemendikbud Ubah Pola UN Pada 2015

Selasa, 5 November 2013 18:08 WIB | 11588 Views
Pewarta: Edy M Ya`kub

Puluhan pelajar menunjukan kartu kelulusan Ujian Nasional di SMK Pondok Indah, Jakarta. (ANTARA/M Agung Rajasa)

Surabaya (ANTARA News) - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mengubah pola ujian nasional (UN) pada 2015, karena saat itu semua jenjang pendidikan sudah menerapkan Kurikulum 2013.

"Pola UN tidak mungkin diubah sekarang, karena siswa pelaksana Kurikulum 2013 masih belum menjadi peserta UN," kata Staf Khusus Mendikbud Bidang Komunikasi Media, Sukemi, di Surabaya, Selasa.

Disela "focus group discussion" (FGD) tentang Kurikulum 2013 dan UN yang diikuti akademisi, praktisi pendidikan, pers, dan pegiat jaringan penulis artikel, ia menjelaskan UN sebagai standar evaluasi akan tetap ada.

Hal itu merujuk pada standar evaluasi yang selalu ada pada semua jenis kurikulum pendidikan dan UN juga merupakan amanat UU Sisdiknas yang dapat menjadi ukuran untuk pembanding standar pendidikan dengan negara lain.

"Tapi, pola UN bisa jadi akan disesuaikan dengan Kurikulum 2013 pada saat seluruh siswa sudah menerapkan Kurikulum 2013, sedangkan Kurikulum 2013 saat ini hanya diterapkan pada siswa kelas 1 dan 4 SD, kelas 1 (VII) SMP, dan kelas 1 (X) SMA," katanya.

Dalam diskusi yang juga diikuti mantan Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitang) Kemdikbud Hari Setiadi itu, ia mengaku belum bisa merinci bentuk perubahan pola UN itu.

"Yang jelas, UN saat ini dipakai pemerintah untuk empat fungsi, yakni pemetaan, syarat kelulusan, syarat melanjutkan studi ke jenjang berikutnya, dan intervensi kebijakan. Pemetaan dan intervensi kebijakan itu bisa dilakukan kalau ada UN," katanya.

Misalnya, ada SMA di Jakarta dengan hanya lima siswa yang semuanya tidak lulus UN, lalu Kemendikbud melakukan intervensi dengan kebijakan merger.

"Atau, SMA di NTB yang jeblok pada mata pelajaran Bahasa Inggris, ternyata sekolah itu tidak memiliki guru Bahasa Inggris dan pengajar Bahasa Inggris justru guru bidang studi lain, lalu kami beri guru Bahasa Inggris," katanya.

US dan UN


Sementara itu, mantan Kepala Puspendik Balitbang Kemendikbud Hari Setiadi menyatakan Kemendikbud sejak tahun 2011 sebenarnya sudah menggabungkan nilai ujian sekolah (US) dengan UN. US berfungsi sebagai evaluasi internal dan UN sebagai evaluasi eksternal.

"Peran dari nilai US mencapai 40 persen, sedangkan UN mencapai 60 persen, sehingga kalau banyak siswa yang lulus UN karena ada faktor US itu. Kedepan, kami akan memberikan kisi-kisi US agar kualitas US semakin baik," katanya.

Dalam diskusi yang dipandu Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemendikbud Ibnu Hamad itu, ia mengatakan US sebagai evaluasi internal merupakan "pintu masuk" bagi penilaian sesuai Kurikulum 2013 yang mengevaluasi sikap/perilaku, ketrampilan, dan pengetahuan.

"Kalau UN sebagai evaluasi eksternal akan bisa menjadi pintu masuk bagi syarat masuk perguruan tinggi, namun UN sekarang masih belum sepenuhnya bisa seperti itu, karena selama nilai US dan UN ada disparitas menunjukkan kualitas masih rendah," katanya.

Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua Dewan Pendidikan Jatim Bagong Suyanto menilai UN saat ini saat ini masih mengalami sakralisasi, sehingga evaluasi pendidikan saat ini justru menimbulkan "ketakutan" sehingga sekolah mirip LBB (lembaga bimbingan belajar).

"Karena itu, perlu ada desakralisasi UN dengan memosisikan UN sebatas 20-25 persen, sedangkan US dengan porsi lebih besar yakni 75-80 persen. Itu penting, karena proses pembelajaran selama tiga tahun itu dievaluasi melalui US. Jadi, US lebih penting dan sesuai dengan Kurikulum 2013," kata sosiolog Unair itu.

Masalahnya, pemerintah masih belum sepenuhnya percaya dengan sekolah, sehingga US pun tidak dipercaya. "Ke depan, seiring dengan proses penerapan Kurikulum 2013, pemerintah harus percaya kepada US. Kalau sekolah dan guru tidak dipercaya, ya ironis," katanya.

Dalam FGD itu, mayoritas peserta mendukung Kurikulum 2013 sebagai kurikulum terbaik karena penilaian dalam kurikulum itu tidak hanya menilai kognitif, tapi sikap/perilaku dan ketrampilan juga dinilai.

Namun, mayoritas peserta menyoroti UN sebagai standar evaluasi yang justru akan "tabrakan" dengan tujuan Kurikulum 2013. "Kurikulum 2013 itu mencetak siswa kreatif dan baik, tapi kalau ujung-ujungnya berakhir pada UN ya percuma," kata pengamat pendidikan, Baidowi.
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © 2013

"MGMP SENI SMAN 42 JAKARTA": Kemendikbud Ubah Pola UN Pada 2015: Selasa, 5 November 2013 18:08 WIB | 11588 Views Pewarta: Edy M Ya`kub Puluhan pelajar menunjukan kartu kelulusan Ujian Nasional di ...

Minggu, 03 November 2013

PEMBARUAN PERSYARATAN LAYANAN GOOGLE

11 Oktober 2013
Kami memperbarui Persyaratan Layanan Google. Persyaratan baru akan berlaku pada tanggal 11 November 2013 dan Anda dapat membacanya di sini.
Umumnya, orang tidak terlalu menyukai bahasa hukum yang rumit, berikut ringkasan dalam bahasa Indonesia sederhana untuk kenyamanan Anda.
Kami melakukan tiga perubahan:
  • Pertama, mengklarifikasi bagaimana nama dan foto Profil Anda dapat muncul di produk Google (termasuk di ulasan, iklan, dan konteks komersial lainnya).
 • Anda dapat mengontrol apakah foto dan nama Anda akan muncul pada iklan melalui setelan Rekomendasi Teman.
  • Kedua, pengingat agar Anda menggunakan perangkat seluler dengan aman.
  • Ketiga, detail mengenai pentingnya menjaga kerahasiaan sandi Anda.
Berikut detail selengkapnya: 
Cara nama dan foto Profil Anda muncul (termasuk di ulasan dan iklan)
Kami ingin memberi Anda – serta teman dan relasi Anda – informasi yang paling berguna. Saran dari orang yang Anda kenal dapat sangat membantu. Teman, keluarga, dan yang lainnya dapat melihat nama dan foto Profil Anda, serta konten seperti ulasan yang Anda bagikan atau iklan yang Anda beri +1. Ini hanya terjadi saat Anda melakukan tindakan (seperti memberi +1, mengomentari, atau mengikuti) – dan orang yang dapat melihatnya hanyalah orang yang Anda pilih untuk diajak berbagi. Di Google, Anda mengontrol yang Anda bagikan. Pembaruan untuk Persyaratan Layanan kami ini tidak mengubah dengan siapa Anda mengajak berbagi sebelumnya atau kemampuan Anda untuk mengontrol siapa yang ingin diajak berbagi di masa mendatang. 
Masukan dari orang yang dikenal dapat menghemat waktu dan meningkatkan hasil untuk Anda dan teman di seluruh layanan Google, meliputi Penelusuran, Maps, Play, dan iklan. Misalnya, teman dapat melihat Anda memberi nilai 4 bintang pada album di laman Google Play suatu band. Dan +1 yang Anda berikan untuk toko roti lokal favorit dapat disertakan dalam iklan yang ditayangkan oleh toko roti itu melalui Google. Kami menyebut saran ini dukungan bersama dan Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang hal tersebut di sini.
Berbicara tentang dukungan bersama dalam iklan, Anda dapat mengontrol penggunaan nama dan foto Profil melalui setelan Dukungan Bersama. Jika Anda mengubah setelan menjadi “nonaktif”, nama dan foto Profil tidak akan muncul dalam iklan tersebut baik untuk toko roti favorit atau iklan lainnya. Setelan ini hanya berlaku untuk penggunaan dalam iklan dan tidak mengubah apakah nama atau foto Profil Anda digunakan di tempat lain seperti Google Play. 
Jika sebelumnya Anda memberi tahu Google bahwa Anda tidak ingin +1 muncul dalam iklan, tentu saja kami akan mematuhi pilihan tersebut sebagai bagian dari setelan yang diperbarui ini. Untuk pengguna berusia di bawah 18 tahun, tindakan mereka tidak akan muncul di dukungan bersama dalam iklan dan konteks tertentu lainnya. 
Untuk kontrol yang lebih besar terhadap pengalaman dengan iklan di Google, Anda juga dapat menggunakan alat Setelan Iklan Google guna mengelola iklan yang dilihat. Pelajari lebih lanjut. 
Gunakan perangkat seluler dengan aman
Ini hanya soal mengikuti akal sehat: Jangan menggunakan layanan kami jika Anda sedang melakukan sesuatu yang membutuhkan konsentrasi penuh, seperti mengemudi, dan layanan kami dapat mengganggu Anda. Serta, tentu saja, pastikan Anda menaati undang-undang saat mengemudi. 
Hati-hati dengan sandi Anda
Prioritas utama kami adalah menjaga informasi Anda agar tetap aman. Nama pengguna dan sandi memungkinkan Anda mengakses banyak hal yang berguna – pesan Gmail, Google+ Foto, video YouTube, daftar Google Kontak, dan lainnya. Semua orang yang Anda beri detail info masuk dapat menggunakannya untuk mengakses Akun Google dan hal-hal yang Anda simpan di Google. Jadi, jika Anda dimintai sandi, berpikirlah dua kali, dan pertimbangkan cara lain yang lebih aman untuk berbagi informasi. 
Jika kami mendapati sesuatu yang tidak biasa (seperti jika ada upaya masuk yang gagal ke akun, atau dua proses masuk ke akun dalam jangka waktu pendek, tetapi dari dua komputer yang terletak saling berjauhan) Anda dapat melihatnya di lansiran aktivitas yang tidak biasa. 
Pelajari tentang cara lain untuk menjaga Akun Google agar tetap aman, termasuk menambahkan verifikasi 2 langkah dan menggunakan sandi khusus aplikasi. 
Terima kasih telah membaca hingga akhir halaman – kami tahu hal ini membosankan namun kami rasa ini penting. Untuk mengetahui bagaimana persyaratan berlaku bagi Anda, periksa Persyaratan Layanan untuk negara Anda.

"KITA SEMUA WAYANG": PEMBARUAN PERSYARATAN LAYANAN GOOGLE: 11 Oktober 2013 Kami memperbarui Persyaratan Layanan Google. Persyaratan baru akan berlaku pada tanggal 11 November 2013 dan Anda da...

Sabtu, 26 Oktober 2013

Kembangkan Nilai Budaya, Pendidikan Seni Punya Posisi dan Potensi Kuat



26 Oktober 2013 | 06:30 wib 

SEMARANG, suaramerdeka.com - Prof Dr Tjetjep Rohendi Rohidi menilai, sebagai sarana penanaman dan pengembangan nilai-nilai budaya, ada posisi dan potensi kuat yang dimiliki pendidikan seni.
Posisi strategis dianggap dimiliki pendidikan seni, lantaran memberikan pengalaman serta tumbuhnya apresiasi dan pengetahuan tentang seni yang memungkinkan berkembangnya suatu cara pandang yang unik tentang sesuatu dalam konteks yang luas.

Ketua Program Studi Pendidikan Seni S2-S3 Unnes itu menilai, cara pandang itu tidak dapat ditempuh melalui cara-cara dalam pendidikan lain seperti penyampai kebenaran imajinasi, emosi, dan spiritual.
Prof Tjejep menyebut, seiring perkembangan waktu, dari tahun ke tahun, pendidikan seni di Indonesia  mengalami berbagai perubahan dalam hal konsep, istilah, substansi, serta tujuan seiring dengan perkembangan kondisi politik, sosial, dan ekonomi.

Menurutnya, perkembangan pendidikan seni sejak periode awal (1930-1945) hingga tahun 2000-an belum mengintegrasikan aspek nilai-nilai kebudayaan. Pendidikan seni masih berorientasi pada pengembangan keahlian menggambar dan kerajinan.

Sekalipun sekarang pendidikan seni hadir dengan muatan kebudayaan sebagai landasan kontekstual, lebih jelas ideologinya, dan nilai-nilai budaya sebagai akar jati diri bangsa dimasukkan ke dalam pendidikan seni, keberadaannya masih belum jelas, terutama menyangkut bentuk pengintegrasiannya. Bahkan, kata Prof Tjejep, dalam pelaksanaan di lapangan hanya mendapat perhatian ala kadarnya, kurang waktu, serta miskin sarana dan prasarana.

( Andika Primasiwi / CN26 / SMNetwork )

Kembangkan Nilai Budaya, Pendidikan Seni Punya Posisi dan Potensi Kuat

GURU PROFESIONAL



Guru Profesional (Foto: SP091257)
Slamet Priyadi Blog - Sabtu, 26 Oktober 2013 - 07:19 WIB -  Guru yang profesional adalah guru yang mampu melakukan pembelajaran di kelas secara efektif.  Menurut Gary A. Davis dan Margaret A. Thomas, ada empat kelompok besar ciri-ciri guru yang efektif. Keempat kelompok itu terdiri dari: 

Pertama, memiliki kemampuan yang terkait dengan iklim belajar di kelas, yang kemudian dapat dirinci lagi menjadi (1) memiliki keterampilan interpersonal, khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati, penghargaan kepada siswa, dan ketulusan; (2) memiliki hubungan baik dengan siswa; (3) mampu menerima, mengakui, dan memperhatikan siswa secara tulus; (4) menunjukkan minat dan antusias yang tinggi dalam mengajar; (5) mampu menciptakan atmosfir untuk tumbuhnya kerja sama dan kohesivitas dalam dan antar kelompok siswa; (6) mampu melibatkan siswa dalam meng-organisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran; (7) mampu mendengarkan siswa dan menghargai hak siswa untuk berbicara dalam setiap diskusi; (8) mampu meminimal-kan friksi-friksi di kelas jika ada.

Kedua, kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen pembelajaran, yang meliputi: (1) memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menangani siswa yang tidak memiliki perhatian, suka menyela, mengalihkan pembicaraan, dan mampu memberikan transisi substansi bahan ajar dalam proses pembelajaran; (2) mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berpikir yang berbeda untuk semua siswa.

Ketiga, memiliki kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik (feedback) dan penguatan (reinforcement), yang terdiri dari: (1) mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon siswa; (2) mampu memberikan respon yang bersifat membantu terhadap siswa yang lamban belajar; (3) mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban siswa yang kurang memuaskan; (4) Mampu memberikan bantuan profesional kepada siswa jika diperlukan.

Keempat, memiliki kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri, terdiri dari: (1) mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif; (2) mampu memperluas dan menambah pengetahuan mengenai metode-metode pengajaran; (3) mampu memanfaatkan perencanaan guru secara kelompok untuk menciptakan dan mengembangkan metode pengajaran yang relevan.(SP091257)

Posted by
Slamet Priyadi,Pangarakan-Bogor
  
GURU SMAN 42 JAKARTA MENULIS: Guru Profesional: Aktifitas Pembelajaran Seni Musik di kelas Slamet Priyadi Blog - Sabtu, 26/10/2013 - 06:44 WIB - Guru yang profesional adalah g...