Sabtu, 11 Juni 2016

SENI KALIGRAFI ISLAM By Prof. Dr. Wiyoso Yudoseputro

Blog Ki Slamet 42 : Forum Guru Seni Budaya

Sabtu, 11 Juni 2016 - 20:35 WIB

Prof. Dr. Wiyoso Yudoseputro
Latar belakang
Seni kaligrafi Arab yang disebut juga seni khath merupakan salah satu karya seni rupa yang tidak kalah pentingnya dari jenis seni rupa Islam lainnya. Sebagai seni tulis dengan tuntutan keindahan, seni khath telah menempuh sejarahnya yang panjang dan mencapai puncak-puncak perkembangannya sesuai dengan peerkembangan dari aksara Arab dan peranankebudayaan di tiap negara Islam. Watak khas dari seni khath ialah bahwa kehadirannya merupakan gubahan kata-kata dari aksara dalam disain tertentu. Demikian dalam kaligrafi Arab, kata-kata disusun menjadi kalimat yang bersumber pada ayat-ayat dari Al-Qur’an atau Hadith. Berbagai pola susunan kalimat bermakna dipadukan dengan berbagai motif geometris dan motif tumbuh-tumbuhan menjadi ornamen tertentu. Perpaduan berbagai motif itu menghasilkan disain ornamental sebagai karya seni dekorasi Islam yang terdapat di hampir seluruh negara Islam di dunia. Disain ornamental ini sifatnya selalu terukur dan kaya dengan berbagai ubahan penampilan. 
Ada ciri lain yang dapat ditunjuk pada karya seni khath yang timbul dari aksara Arab itu sendiri. Aksara Arab merupakan jenis tulisan yang elastis, tampil dengan bentuk keindahan yang sensitif. Seperti seperti dalam kaligrafi Cina, seorang kaligrafi dalam seni khath memiliki gaya sensitivitas yang tinggi di samping kepandaian teknik menulis. Maka nilai pribadi seniman tampak pada setiap jenis karya seni khath yang menjadi sumber pertumbuhan dari gaya dalam kaligrafi Arab.
Pada abad ke 14 tercatat beberapa gaya kaligrafiArab sesuai dengan aksara Arab yan tercipta di tiap daerah, seperti gaya Bagdad, Farisi, Andausi dan Istambul. Gaya daerah dalam kaligrafi Arab ini juga disebabkankarena adanya pemantapan bentuk dari aksara di tiap daerah. Jenis karya Kufah misalnya adalah hasil perkembangan aksara Arab (gbr.52). dari tulisan Suryani yang berbeda dengan jenis aksara Nasch yang berasal dari tulisan Natbhi (gbr.51). jenis-jenis aksara Arab ini berkembang terus sampai
meliputi jumlah kurang lebih 20 macam aksara.

Ada pula gaya kaligrafi Arab yang ditimbulkan oleh bahan dan teknik penulisan. Tulisan kaligrafi pada bahan kulit binatang atau logam menghasilkan corak tulisan yang berbeda dengan tulisan pada bahan tanah liat atau batu marmer. Juga dengan tulisan dari lidi bambu, bulu angsa atau pen  logam dapat dihasilkan corak dan gaya tulisan tertentu.
Kaligrafi Arab bergaya Kufah
Kaligrafi Arab bergaya Nasach
Dibandingkan dengan negara-negara Islam, seni khath di Indonesia tidak begitu tampil menonjol sebagai karya seni rupa. Hal ini disebabkan karena penerapan kaligrafi Arab sebagai hiasan sangat terbatas. Bangunan-bangunan tertua pada zaman permulaan kerajaan Islam tidak memberi peluang yang berarti bagi penerapan hiasan kaligrafi Arab. Masjid-masjid lama seperti di Banten, Cirebon, Demak d  Kudus menerapkan kaligrafi Arab hanya sebagai pelengkap motif hias yanbersumber pada tradisi seni hiasIndonesia-Hindu.
Dibandingkan dengan negara-negara Islam lain, seni khath di Indonesia tidaka begitu tampil menonjol sebagai karya seni rupa. Hal ini disebabkan karena penerapan kaligrafiArab sebagai hiasan sangat terbatas. Bangunan-bangunan tertua pada zaman permulaan kerajaan Islam tidak memberi peluang yang berarti bagi penerapan hiasan kaligrafi Arab. Masjid-masjid lama seperti di Banten, Cirebon, Demak dan Kudus menerapkan kaligrafi Arab hanya sebagai pelengkap motif hias yang bersumber pada tradisi seni hias Indonesia-Hindu. Memang jika dibandingkan dengan hiasan masjid di negara-negara Islam lainnya pada waktu yang sama, peranan seni kaligrafi Arab pada arsitektur di Indoneesia tidak seberapa. Masjid lama Indonesia dengan konstruksi bangunan kayu memang tidak memberi peluang hadirnya hiasan kaligrafi Arab yang kaya. Jarang pula penerangan kaligrafi Arab pada benda upacara dan prabt kraton. Di sana-sini memang ada tanda-tanda hiasan kaligrafi Arab seperti misalnya pada hiasan mimbar masjid dan pada batu nisan makam.
 
Kurangnya peranan kaligrafi Arab dalam seni dekoratif Islam Di Indonesia disebabkan juga karena ketidakmandirian kaligrafi sebagai cabang seni rupa. Kebiasaan menulis indah yang dapat memungkinkan perkembangan seni kaligrafi, kebiasaan ini tidak terdapat dalam kebudayaan Islam-purba di Indonesia. Bangsa yang telah mengenal tulisan sejak sebelum zaman Islam tidak cukup mendapat rangsangan untuk menekuni kaligrafi Arab. Tulisan pada bilah kayu, tembaga dan pada daun lontar dari masa pra Islam tidak berkembang menjadi tulisan kaligrafi yang indah. 
Kehadiran kaligrafi Arab yang kadang-kadang disatukan dengan aksara Jawa dalam bentuk candra sangkala hanyalah berfungsi sebagai tanda peringatan berdirinya masjid seperti yang terdapat pada Masjid Mantingan, Masjid Sumenep, dan Masjid Sendangduwur.
Penerapan Kaligrafi Arab
Dengan uraian di atas jelas bahwa tugas seni kaligrafi Arab pada masa Islam-Purba ialah tugas dekoratif. Dalam tugas dekoratif ini kaligrafi Arab dipadukan dengan motif-motif hias tradisional. Ini berarti bahwa kehadiran motif kaligrafi Arab tidak terlepas dari pesan-pesan perlambangan seperti yang sering dituntut dalam seni hias tradisional pra Islam. Jadi, hiasan kaligrafi Arab dalam kesenian Islam-purba di Indonesia tidak berdiri sendiri, baik dilihat dari fungsi perlambangan maupun fungsi estetikanya.
Fungsi perlambangan
Kaligrafi Jawa yang tampak pada candra sangkala adalah contoh fungsi perlambangan dari sebuah kaligrafi. Dalam kebudayaan Jawa-Hindu terdapat kebiasaan untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran dalam bentuk perlambangan . pernyataan perlambangan ini dapat ditampilkan dalam berbagai bentuk seperti kata-kata dan gambar hiasan yang mengandung petuah, ajaran dan petunjuk.
Telah disinggung tentang candra sangkala yang tampil sebagai gambar perlambanganyang berarti kiasan dalam bentuk rangkaian kata-kata untuk menyatakan tahun. Perhitungan tahun berdasarkan peredaran bulan berasal dari Arab yang diterapkan sejak Mataram yang mendasari perhitungan tahun dalam candra sangkala yang berbeda 78 tahun dengan tahun Masehi. Kebudayaan Jawa-Hindu yang melahirkan candra sangkala berwujud kata-kata dan kalimat dalam perkembangannya mencapai hiasan bergambar yang disebut sangkala memet.
Kain panjang berbentuk panji dan kraton berisi unsur-unsur perlambangan yang tersusun baik dalam kata-kata dan kalimat dari petuah ajaran agama Islam maupun gambar-gambar bentuk stilasi pedang, singa dan bentuk ilmu ukur. Gambaran kaligrafi semacam itu sering diketemukan sebagai perbendaharaan kraton yang mempunyai nilai perlambangan. Alam pikiran kosmis magis yang berpengaruh terus sampai pada zaman Islam, dalam manifestasinya antara lain dalam bentuk gambar tulisan batik kaligrafi. Garapan aksara secara
artistikk memang tidak ditampilkan sebagai unsur keindahan. Sebagian besar dari karya kaligrafi Arab di In donesia memang lebih mementingkan nilai kegunaannya sebagai kaligrafi terapan. Dengan kata lain seni khath di Indoneia tidak ditujukan untuk mengembangkan nilai keindahan tulisan Arab itu sendiri sebagai karya seni tulis. Itulah sebabnyamengapa kaligrafi Arab di Indonesia lebih banyak tampil sebagai motif hias dan tanda kiasan atau perlambangan.

Lukisan kaca dan pahatan kaligrafi Arab yang disebut Macan Ali permasalahannya juga sama dengan lukisan Singa pada batik kaligrafi dari panji kraton tersebut. Di sini sosok binatang macan atau singa sebagai perwujudan lambang lebih diutamakan. Aksara Arab karenanya hanya berfungsi untuk mengisi bidang sosok binatang. Terasa bahwa penggarapan aksara Arab harus menyesuaikan dengan bidang lukisan yang tersedia.
 
Lukisan kaca "Macan Ali" dari kraton lama Cirebon
enampilan kaligrafi seperti tersebut di atas juga tampak pada kaligrafi Arab berbentuk wayang seperti tokoh panakawan, ksatria, raksasa dan dewa atau tanda perlambangan kerajaan. Maka aksara Arab dan kata-kata yang dipakai dalam lukisan kaligrafi ini harus ikut mendukung nilai perlambangannya. Pada karya kaligrafi Arab tidak tampak upaya untuk membuat lukisan indah. Hal ini bisa dimengerti karena para pembuat kaligrafi lebih terikat pada bentuk perlambangan yang sudah dibakukan daripada mencipta lukisan
baru dengan memanfaatkan aksara Arab yang indah. Jelas bahwa kaligrafi Arab berfungsi sebagai media pembentuk perlambangan yang telah tersedia dan dirumuskan arti perlambangannya.

Fungsi dekoratif
Adanya bermacam-macam corak dan gaya aksara Arab tidak hanya menjelaskan adanya kemampuan teknis menulis yang berbeda, tetapi jugamenampilkan keindahan yang sensitif dari aksara Arab itu sendiri.Hakikat keindahan dari aksara Arab itu dirasakan oleh para seniman kaligrafi Arab sebagai kemungkinan untuk menggarab sebagai media hiasan. Di negara-nedara Islam seperti Mesir,Parsi dan Turki dalam sejarah perkembangan seni rupanya telah dihasilkan benda-benda kerajinan dari berbagai bahan yang memperlihatkan hiasan kaligrafi Arab yang sangat menarik.
 
Kaligrafi Arab pada hiasan belanga dari Parsi
Sesuai dengan bahan yang dipakai maka dalam mencipta hiasan tersebut para seniman dituntut untuk mengenal bermacam-macam teknik berbeda dengan membuat hiasan sama pada jambangan atau lampu dari porselin. Di sini terasa bahwa kaligrafi Arab di negara-negara tersebut turut menaikkan mutu seni kerajinannya. Selain itu keberhasilan menghias ialah karena mampu memanipulasikan keindahan aksara Arab. Di samping benda-benda kerajinan tersebut, kaligrafi Arab juga diterapkan pada hiasan alat-alat perang seperti pedang, perisai, tombak, topi baja dan sebagainya. Di Indonesia hiasan semacam inijuga tampak pada keris atau tombak yang telah dibahas pada seni kerajinan logam.
Kaligrafi Arab pada hiasan bidang bilah keris dari Jawa
Keindahan kaligrafi Arab lebih banyak berbicara pada hiasan arsitektur. Kemegahan masjid-masjid besar di negara-negara Islam tidak hanya terletak pada konsep disain arsitekturnya, tetapi juga pada nilai
dekoratifnya.

Bidang-bidang rata dan lengkung, vertikal dan horisontal dari tiap bagian bangunan masjid dengan ukuran yang berbeda-beda, tersedia untuk penerapan hiasan kaligrafi Arab. Ayat-ayat suci dari Al-Qur’an dipilih pada bidang-bidang dari bangunan masjid dan makam, terutama makam-makan tertua yang ditemukan di beberapa tempat baik yang berasal dari Gujarat maupun yang asli dari Indonesia. Untuk membaca kalimat-kalimat kaligrafi yang tergurat pada makam Gujarat dibutuhkan ketelitian karena susunan kalimat biasanya disesuaikan dengan bentuk bidang, semacam susunan secara sinopsis. Di samping ayat-ayat suci Al-Qur’an atau pujian kepada Allah dan Nabi Muhammada saw. Atau bagian dari kalimat Syahadat, kaligrafi Arab muncul dalam bentuk syair indah seperti yang terpahat pada makam Sultan Malik as Saleh atau pada makam-makam di Aceh Utara yang membuat syair bahasa Melayu kuno.
Pada hiasan bidang batu nisan dari makam Maulana Malik Ibrahim tampak tradisi seni khath yang berasal dari Gujarat yang lebih menekankan kepada keindahan aksara Arab dengan gaya paduan dari Nasadi dan Kufah. Pembagian bidang hiasan sesuai dengan bidang dari batu marmer, memberikan tempat untuk kalimat-kalimat ayat suci dengan memperhitungkan kesatuan komposisi yang sangat teratur dan apik.
 
Kaligrafi Arab pada hiasan bidang batu nisan makam lama Banda Aceh

Tidak ada batasan yang jelas tentang penerapankaligrafi Arab sebagai hiasan pada makam-makamkunodi Indonesia. Di antaramakam-makam kuno di Troloyo dekat Mojokerto ada yang memperlihatka  hiasan kaligrafi Jawa-kuno yang diperkirakan sudah ddirikan pada zaman Hindu. Ada juga hiasan kaligrafi Arab dengan gaya Kufah yang terdapat pada makam kuno dari Leran Kabupaten Gresik. Teknik pahatan dari makam-makam ini jika dibsndingkan dengan pahatan kali grafi pada makam gaya Gujarat kurang halus dan kurang teliti pengerjaannya. Kehalusan teknik memahat kaligrafi juga tampak pada hiasan kaligrafi Arab pada nisan makam dari Banda Aceh. Pada pahatan ini tradisi seni pahat Indonesia-Hindu tidak kentara jika dibanding dengan pahatan kaligrafi pada nisan makam di Troloyo.
Kaligrafi Jawa Kuno pada hiasan batu nisan makam lama Troloyo Mojokerto
Dalam hubungannya dengan bangunan masjid kuno di Indonesia, kaligrafi Arab lebih berfungsi sebagai tanda didirikannya dalam bentuk candra sangjala, baik yang menggunakan aksara Jawa-Kuno maupun aksara Arab. Kaligrafi Arab yang diterbkan pada bangunan masjid sebagai media hiasan hampir tidak dikenal pada zaman Islam-purba. Tidak seperti pada masjid-masjid di luar Indonesia yang hampir semua perbidangan dalam ruang interior memperlihatkan hiasan kaligrafi yang kaya dengan berbagai teknik menghias seperti mozaik, lukisan, ukiran dan tempelan. Ciri khas ornamentik Islam hasil dan penggabungan motif geometris dan kaligrafi Arab juga tidak tampak pada masjid-masjid tertua di Indonesia. Tradisi menghias masjid dengan teknik membentuk relief yang bersumber pada seni tradisi seni Jawa-Hindu berpengaruh pula pada penerapan kaligrafi Arab yang disesuaikan dengan bentuk keruwal dari motif tumbuh-tumbuhan. Hiasan Kaligrafi ini punhadir pada tempat-tempat tertentu sekedar untuk mengisi kekosongan bidang.
Dengan keterangan singkat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kaligrafi Arab sebagai ragam hias Islam kurang memegang peranan dalam menghias masjid-masjid kuno di Indonesia. Peranan itu baru terasa setelah ada perkembangan baru dari bangunan masjid agak mutakhir, yaitu ketika pengaruh dari arsitektur Islam dari luar makin terasa di Indonesia.
Sumber:
Wiyoso Yudoseputro
Pengantar Seni Rupa Islam Di Indonesia
Angkasa – Bandung 2000
Bumi Pangarakan, Bogor
sabtu, 11 Juni 2016 – 12:38 WIB


GURU SMAN 42 JAKARTA MENULIS: SENI KALIGRAFI ISLAM By Prof. Dr. Wiyoso Yudoseput...: Blog Ki Slamet : Sang Guru SMAN 42 Menulis Sabtu, 11 Juni 2016 - 13:13 WIB Prof. Dr. Wiyoso Yudoseputro Latar belakang Seni...

Jumat, 03 Juni 2016

SEMBILAN SISWA SMKN 2 CIBINONG LOLOS AUDISI ORCHESTRA

Blog Ki Slamet 42 : Forum Guru Seni Budaya
Jumat, 03 Juni 2016 - 05:23 WIB

Image "Siswa-siswi SMKN 2 Cibinong"
Siswa-Siswi SMKN 2 Cibinong


CIBINONG – Kabar membanggakan datang dari sekolah Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Cibinong. Sembilan siswanya lolos dalam audisi peserta  Indonesian Youth Orchestra rajutan komposer kondang tanah air Addie MS.

Dengan lolosnya sembilan siswa SMKN 2 Cibinong tersebut, sekaligus mengantarkan mereka menjadi peserta Indonesian Youth Orchestra. Waka Hunbin SMKN 2 Cibinong, Citra Sekarpramanik menuturkan, pihaknya sangat bangga dengan hasil yang ditorehkan para peserta didiknya. Terlebih mereka merupakan satu-satunya sekolah musik negeri di Kabupaten Bogor.

“Audisinya sendiri diadakan dua tahap, yakni audisi melalui Apload videoKE Youtube dan waalk in performance yang diseleksi langsung Addie MS selaku konduktor , Dewi Atmojo (direktur), serta Syafrudin Mangku Negara (violist),” jelasnya.

Lanjut Citra, adapun nama-nama kesembilan murid yang lolos audisi Indonesian Youth Orchestra kemarin, yakni Helmi Handico Herlambang (violin), Anindya Adi Marshelly (violin), Farih Ibnu Iskandar(violin), Tubagus Syahrul (contrabass), Aninda Kurniasih (flute), Anzar Febrianto (trombone).

Dengan adanya torehan prestasi ini, anak sekolah terus berupaya menambah sarana dan prasarana penunjang kegiatan pembelajaran bagi para siswanya.

Kendati telah memiliki peralatan musik berkelas internasional, pihaknya masih membutuhkan beberapa ruangan untuk memaksimalkan kegiatan pengajaran.

Sementara itu, Kepala SMKN 2 Bogor Jumartini menambahkan, semoga dengan adanya prestasi yang terus diraih sekolahnya, mampu menumbuhkan kepercayaan masyarakat bahwa lembaga kejuruan musik sama-sama meyakinkan masa depan yang cerah bagi para muridnya.

“Tidak menutup kemungkinan untuk tahun-tahun ke depannya jumlah peminat sekolah musik terutama di wilayah Kabupaten Bogor kian bertambah serta mampu memberikan warna berbeda bagi dunia pendidikan Bumi Tegar Beriman,” pungkasnya. (ran/c)

Sumber:
RADAR BOGOR – Selasa, 5 April 2016
 

Sabtu, 30 April 2016

BAPAK PENDIDIKAN NASIONAL KI HAJAR DEWANTARA (1889-1959) Oleh Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet : Forum Guru Seni Budaya
Sabtu, 30 April 2016 - 21:35 WIB



Bapak Pendidikan Nasional
Ki Hajar Dewantara (Mei 1889-April 1959)

Image "Ki Hajar Deewantara"
Ki Hajar Dewantara Muda
SETIAP tahun pada tanggal 2 Mei, Institusi Pendidikan, khususnya di jajaran Kemendiknas secara nasional memperingati “Hari Pendidikan Nasional”. Pertanyaannya adalah mengapa peringatan Hari Pendidikan Nasional itu diperingati pada 2 Mei?  Jawabannya tentu kita sudah tahu. Akan tetapi mungkin saja di antara kita banyak yang sudah lupa atau bahkan mungkin tidak tahu dan tidak mengenalnya siapa sosok Ki Hajar Dewantara.

Nah, melalui tulisan inilah saya berupaya untuk membangkitkan kembali ranah kognitif kita memunculkan kembali ingatan kita pada sosok Ki Hajar Dewantara yang fenomenal itu. Tentu saja dalam rangka menghormati, mengenang jasa, dan meneladani sepak terjang serta perjuangan beliau yang begitu keras bagi kemajuan bangsa Indonesia khususnya dalam dunia Pendidikan Nasional kita.

Menurut sejarahnya, Ki Hajar Dewantara dilahirkan di kota budaya yang dikenal juga dengan sebutan kota pelajar, Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Ayahnya adalah seorang Pangeran bernama “Pangeran Suryaningrat” putra Paku Alam ke-4 dari Yogyakarta.  

Selepas lulus sekolah dasar Belanda “ELS” ( Europesche Largere School ), beliau melanjutkan ke Sekolah Guru juga ke STOVIA. Akan tetapi di sekolah ini Ki Hajar Dewantara tidak bisa menyelasaikan studinya sampai selesai karena bea siswa yang diperolehnya dihentikan alias dicabut karena gagal dalam mengikuti ujian kenaikan tingkat.

Pelajaran yang bisa kita peroleh dari keteladanan beliau adalah pada sikap tegar tak kenal putus asa, meskipun beliau gagal dalam ujian, dan oleh karena itu pula bea siswanya  sampai dicabut atau dihentikan, beliau sama sekali tidak kecewa, tidak putus asa bahkan tetap tegar menghadapinya. Hal ini dibuktikannya dengan aktif dalam kegiatan menulis yang lebih intens dalam organisasi pergerakan pemuda yang sebelumnya memang sudah digelutinya.

Beberapa tulisan beliau banyak menjadi pembicaraan dalam mesyarakat, bahkan dua buah tulisannya yang berisi kritikan terhadap pemerintah Kolonial belanda mendapat perhatian khusus. Kedua tulisan itu diberi judul, “Als Ik Een NederlanderWas” (Seandainya Aku Seorang Belanda), dan “Een Voor Allen maar Ook Allen voor Een” (Satu untuk Semua, Namun Semua untuk Satu Jagad). 

Selain aktif menulis dan bekerja di sebuah Apotek Rathkamp, Yogyakarta, Ki Hajar Dewantara pun aktif dalam berorganisasi. Beliau masuk organisasi “Boedi Oetomo” berada dalam divisi propaganda. Bersama-sama dengan Danudirja, Setyabudi, dan Cipto Mangunkusumo  mendirikan “IP” (Indische Partij di Bandung.

Terlalu keras dan dianggap banyak menyulitkan pemerintah kolonial Belanda, ketiganya pun ditangkap dan diasingkan ke Negeri Belanda selama 6 tahun. Akan tetapi yang namanya Ki Hajar Dewantara memang memiliki sikap ketegaran yang luar biasa. Ia pantang menyerah dan terus berjuang keras membangun jiwa, membangun karakter bangsa. Di Negeri Belanda ini beliau memanfaatkan waktu luangnya dengan mengasah terus wawasan inteletualnya dengan belajar ilmu pendidikan sampai akhirnya memperoleh “Akta Guru Eopa” (Euroopeesche Akte).

Selepas pulang dari pengasingan selama 6 tahun dan memperoleh Akta Guru Eropa, Ki Hajar Dewantara mendarmabaktikan keilmuannya menjadi Guru di sekolah yang didirikan oleh sahabatnya Soeryopranoto. Di sekolah ini ia tetap berjuang keras untuk membangun jiwa, membangun karakter bangsa dengan berbagai pandangan-pandangan hidup dan pemikiran-pemikirannya yang berkait dengan karakter bangsa. Sampai pada akhirnya beliau Ki Hajar Dewantara mendirikan “Perguruan Nasiona Tamansiswa” (Onderwijs Institut Tamansiswa) pada tanggal 3 Juli 1922.

Karena ketokohannya dalam dunia pendidikan menjadikan beliau, Ki Hajar Dewantara dipercaya dan ditunjuk menjadi salah satu anggota PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) di era penjajahan Jepang. Beliau juga dipercaya terpilih sebagai Menteri Pengajaran Kabinet Pertama Republik Indonesia pada tanggal 2 September 1945. Beliau, Ki Hajar Dewantara terus berkiprah, berjuang tak kenal lelah dan putus asa, membangun jiwa, membangun karakter bangsa lewat pendidikan hingga pada akhir hayatnya.

Ajaran Ki Hajar Dewantara yang sampai sekarang tetap terpatri di setiap jiwa para pemimpin dan terutama para guru adalah:

1.    Ing Ngarso Sung Tulodo” (di depan menjadi teladan),
Artinya bahwa seorang pemimpin haruslah mempuanyai sikap dan prilaku yang baik dan menjadi contoh suri tauladan bagi masyarakat.

2.    Ing Madyo Mangun Karso” (di tengah membangun dan membangkitkan karsa),
Artinya bahwa seorang peminpin ketika berada di tengah-tengah masyarakat haruslah dapat menciptakan peluang-peluang agar masyarakat dapat berkarya dengan baik.

3.    Tut wuri Handayani” (di belakang memberi dorongan semangat dan motivasi)
Artinya bahwa seorang pemimpin ketika berada di belakang haruslah menjadi pendorong semangat, menjadi motivator bagi masyarakat.

Beliau, Ki Hajar Dewantara, wafat pada tanggal 26 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di Pemakaman Wijayabrata, Yogyakarta. Oleh karena jasanya yang begitu besar terhadap bangsa dan negara Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi beliau sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional tahun 1959. Dan, hari lahirnya pun diperingati sebagai “HARI PENDIDIKAN NASIONAL”.

Sebagai hormat dan sumbangsih penulis pada keteladan sikap, sepak terjang, dan perjuangan beliau serta untuk mengenang dan mengabadikan jasa-jasa beliau, penulis menciptakan satu lagu yang penulis beri judul “Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara”.


Bapak Pendidikan Nasional
“Ki Hajar Dewantara”
Ciptaan: Slamet Priyadi

Bapak Pendidikan Nasional
Ki Hajar Dewantara
Berjuang keras membangun jiwa
Membangun karakter bangsa

Bapak Pendidikan Nasional
Ki Hajar Dewantara
Ajarannya menjadi teladan
Bagi kita semua

Reffrein:

Ing ngarso sung tulodo
Di depan menjadi teladan
Ing madyo mangun karso
Di tengah membangun karsa
Tut wuri handayani
Di belakang memberi
Dorongan s’mangat dan motivasi