Sabtu, 14 Maret 2015

70 peserta dari 40 negara raih Beasiswa Seni Budaya Indonesia



Senin, 9 Maret 2015 14:58 WIB | 5.319 Views
Pewarta: Yuni Arisandy
Menlu Retno L.P. Marsudi (tengah) didampingi Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Esti Andayani (kiri), dan Direktur Diplomasi Publik Albusyra Basnur (kanan) berfoto bersama dengan para peserta program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) 2015 di halaman Gedung Pancasila Kantor Kemenlu, Jakarta, Senin (9/3/15). (ANTARA FOTO/Kemenlu-Suwandy/HO)
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi secara resmi membuka penyelenggaraan Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) 2015 yang melibatkan 70 peserta dari 40 negara termasuk Indonesia.

"Ini merupakan kehormatan bagi saya untuk menyambut anda semua di Indonesia, khususnya para peserta Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia 2015," kata Menlu Retno dalam pidato pembukaan Program BSBI di Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Senin.

Program BSBI 2015 itu diikuti 70 peserta dari 40 negara, antara lain Austria, Brunei Darussalam, Kamboja, Kanada, Tiongkok, Kroasia, Ceko, Fiji, Prancis, Jerman, Yunani, Hungaria, India, Kazakstan, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Selandia Baru, Papua Nugini.

Kemudian, Polandia, Rusia, Kepulauan Solomon, Korea Selatan, Spanyol, Suriname, Thailand, Belanda, Filipina, Amerika Serikat, Timor Leste, Turki, Vanuatu, Vietnam.

Dari 70 peserta program BSBI itu, enam diantaranya berasal dari Indonesia. Para peserta dari Indonesia akan bertugas mendampingi para peserta dari negara lain.

Menurut Menlu, Program BSBI yang dimulai 13 tahun lalu itu merupakan alat bagi Indonesia untuk menggapai generasi muda di seluruh dunia.

"Mempelajari bahasa lain dan menghormati budaya lain di suatu negara bukan hanya soal mendapatkan pengalaman. Bahkan, itu berarti anda sedang membangun jembatan pemahaman, perdamaian dan kemakmuran bagi dunia," ujar dia.

"Kita memerlukan jembatan yang solid untuk menghadapi tantangan global dan perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya," lanjut Retno.

Menurut Direktur Diplomasi Publik Kemlu Al Busyra Basnur, para peserta Program BSBI akan mempelajari bahasa, kesenian, dan kebudayaan Indonesia dengan mengunjungi enam kota yaitu Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Makassar, Bali.

"Khusus di Yogyakarta, mereka akan mempelajari tentang Indonesia secara akademis dari sisi kajian politik, ekonomi, sosial dan budaya. Di lima kota lain, mereka akan belajar seni budaya Indonesia, seperti tarian tradisional, cara memainkan alat musik tradisional, dan kearifan lokal," jelas dia.

Program BSBI itu akan berlangsung selama tiga bulan dan ditutup dengan sebuah pertunjukan kolosal bernama Indonesia Channel, yang akan diperankan oleh para peserta.

"Pertunjukan itu merupakan media di mana kita melihat kesuksean peserta mendapat pengalaman di Indonesia. Rencananya untuk tahun ini Indonesia Channel akan dilakukan di Bandung pada 15 Juni," ungkap dia.

Al Busyra menilai Program BSBI bermanfaat untuk mempromosikan kesenian, budaya, serta pariwisata Indonesia ke dunia internasional.

"Kami melihat program ini sangat bermanfaat. Para peserta ini setelah kembali ke negaranya masing-masing, mereka biasanya berperan aktif mempromosikan tentang Indonesia," ujar dia.

Editor: Desy Saputra
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Minggu, 11 Januari 2015

“THOMAS JEFFERSON” ( 1743 – 1826 ) PRESIDEN AMERIKA SERIKAT KETIGA



THOMMAS JEFFERSON 1743 - 1826 (Foto: SP)
THOMAS JEFFERSON (1743 - 1826)

“Apabila ada orang-orang di antara kita yang ingin menghancurkan negara ini, atau mau merubah bentuk Republiknya, biarkanlah mereka tegak tak terganggu sebagai monumen-monumen keselamatan, yang dengannya kesalahan pendapat bisa ditolerir ketika pikiran sehat dibiarkan bebas menggempurnya.”  (—Pidato Pelantikan, tahun 1801.)




Diahirkan :
Di Shadwell, Virginia, 13 April 1743. 
Pendidikan :
Lulusan William and Mary College tahun 1762.
Kawin :
Dengan Martha Wayles Skelton tahun 1772
Karier :
-          Ahli hukum 1767
-          Anggota Dewan Burgeses 1769 – 1774
-          Anggota Kongres Kontinental 1775 - 1776
-          Anggota Virginia House of Delegates 1776 – 1779
-          Gubernur Virginia tahun 1779 – 1781
-          Anggota Kongres Kontinental tahun 1783 – 1785
-          Duta besar untuk Prancis tahun 1785 – 1789
-          Menteri Luar Luar Negeri tahun1790 – 1793
-          Wakil Presiden tahun 1801 – 1809
-          Presiden tahun 1801 – 1809
-          Pendiri Universitas Virginia

Meninggal :
Di Monticello, Virginia, pada 4 Juli 1826

Terkenal dengan nama “Revolusi Tanpa Darah Tahun 1800,” terpilihnya Jefferson segai Presiden menandai suatu perubahan secara damai dan mendasar dalam pemerintahan negara yang baru itu.  Sebagai penggerak revolusi yang secara berani menjelmakan kepercayaan yang etis dan agamawi ke dalam Deklarasi Kemerdekaan.  Menumbuhkan suatu filosofi pemerintahan pada Kepresidenan, yang secara teguh berakar pada kepercayaan yang serupa itu.  Suatu filosofi yang di atas segala-galanya, menyangkut hak-hak dan kebebasan pribadi.  Kebebasan pribadi telah menjadi pandangan Jefferson yang demokratis, dan keyakinannya yang teguh, bahwa lebih dari yang lainnya, hal itu telah membawa negeri itu terhindar dari pemerintahan kelompok kaum Federalis.
Ada sejumlah tokoh yang beruntung punya persiapan punya persiapan lebih baik untuk menjadi presiden.  Sebagai lulusan William and Mary College, dan sebagai seorang juris yang cakap, Jefferson membantu terbinanya martabat negara yang berjuang dari sejak awwal di dalam Dewan Burgesses Virginia, di dalam Kongres Kontinental, dan di depan Pengadilan Prancis.  Dan sebagai Menteri Luar Negeri di bawah Presiden Washington, maupun sebagai Wakil Presiden di zaman Presiden Adams.
Sebagai Presiden, Jefferson memperlihatkan kepemimpinan yang cakap dengan membangun Partai Republik yang sedang tumbuh.  Dan melalui partai tersebut pengaruhnya disalurkan ke dalam kongres.  Tak seperti Washington dan Adams, dia merupakan ketua partai yang tak tergoyahkan.  Dia adalah presiden pertama yang memegang javatan rangkap, yaitu sebagai Ketua Partai dan Kepala Negara.  Dan dia membuktikan dirinya sebagai seorang ahli filsafat yang melaksanakan beberapa prinsip radikalnya.  Di dalam melaksanakan tugas jabatannya dia memiliki daya tarik dalam sikap kebersamaan :  misalnya pada upacara-upacara resmi dia menanggalka semua tanda pangkat/kehormatan termasuk kebiasaan-kebiasaan feodal lainnya yang menjalar di kalangan pejabat-pejabat negara di pemerintahan awal.  Dia menciptakan suatu sikap demokratis yang mendasar dalam jabatan negara yang tertinggi itu.  Suatu usaha mulia yang sama dengan usaha pembelian daerah Lousiana yang dimeriahkan itu, sebagai suatu usaha pemerintahannya yang menonjol.
Sebagai seorang yang sangat pandai dan sulit, Jefferson adalah salah seorang yang paling berhasil di antara presiden lainnya.  Sikapnya yang revolusioner, negarawan, ahli filsafat, arsitek, ahli musik, enemu ide baru dan penulis.  Dia seorang yang pintar yang  jarang ditemukan di zamannya.  Merupakan contoh hidup dari kepercayaannya yang abadi dalam kemampuan perorangan untuk belajar dan berkembang dalam alam kemerdekaan.

Pustaka:
Vincent Wilson Jr. 1982. “The Book Of The Presidents”
“Presiden-Presiden Amerika Serikat” 
Alih Bahasa:
oleh Drs. Abdullah Amry
Penerbit Mutiara Jakarta – Cetakan kedua 1982

Minggu, 11 Januari 2015 – 09:58 WIB
Slamet Priyadi di Pangarakan, Bogor