Jumat, 31 Agustus 2012

5 M By Slamet Priyadi


SLAMET PRIYADI
( MGMP SENI BUDAYA SMAN 42 – Jumat, 31 Agustus 2012)

1.      Mengajar harus dengan persiapan yang matang baik  persiapan kognitif, afektif dan psikomotorik.

2.      Mengajar harus terencana, terstruktur, interaktif, inovatif, dan efektif. Terutama dalam intonasi, dan artikulasi. Ucapan vocal harus keras dan jelas.

3.      Mengajar harus disajikan melalui pendekatan psikologis, individual dan social

4.      Mengajar harus dengan strategi, metode, dan alat bantu (media) pembelajaran

5.      Mengajar harus ada evaluasi baik evaluasi kepada siswa maupun kepada diri sendiri sebagai guru. Hal ini dilakukan sebagai koreksi ke dalam. Sampai sejauh manakah materi pembelajaran bisa ditangkap siswa, dan sampai sejauh mana pengembangan serta peningkatan kemampuan guru dalam mengajar.

Kamis, 30 Agustus 2012

HULU KERIS, SENI ARCA YANG MEMPESONA By Toni Junus


Ketika seseorang menyelipkan keris pada saat berbusana tradisional, hulu keris adalah bagian dari keris yang paling pertama terlihat oleh mata. Sarung keris tidak mudah dilihat karena sebagian tertutup oleh pakaian.
Kata "hulu" berasal dari bahasa Melayu, sebutan dalam bahasa daerah yang ada di Indonesia antara lain: Ukiran, Jejeran atau Deder (bhs. Jawa); Gagang, Tongkol (Cirebon, Banten); Landhian atau Denangan (Madura) dan Danganan (Bali dan Lombok).

Seni hulu keris dapat dibagi dalam 2 (dua) pemahaman, yaitu nilai wujud fisik (tangible) dan abstraksinya (intangible). Wujud dari hulu keris adalah merupakan suatu benda yang diciptakan dengan sentuhan-sentuhan seni, bahannya terbuat dari kayu pilihan, tanduk rusa, tulang, gading, fosil dan ada hulu keris yang dibungkus oleh emas atau perak. Di Jawa (keraton Surakarta dan Yogyakarta) umumnya terbuat dari kayu yang memiliki serat lembut dan indah, seperti kayu asam (tamarindus indicus), kayu kemuning (murraya paniculata), kayu kendayaan (bauhinia malabarica), kayu Tayuman (bauhinia tomentosa), dan kayu timåhå pélét atau timåhå kendit (klenhovia hospita).

Abstraksi dari hulu keris (intangible) adalah adanya aspek-aspek yang melatar-belakangi pembuatannya. Aspek-aspek itu antara lain sisi pandang mistik (mithologi), adanya keterkaitan dengan kepercayaan, menjadi simbol status sosial, memiliki nilai kesejarahan dan muatan filosofi. Semuanya itu diekspresikan secara visual dengan gaya dan bentuk berbeda-beda antara daerah satu dengan lainnya.

”Peninggalan-peninggalan kebudayaan dalam sisi kebendaan dapat langsung kita teliti dan selidiki saat ini, karena masih ada dan masih dapat dilihat dan diraba. Tidak demikian dengan sejarah yang melatar belakanginya. Kebanyakan hanya bisa ditafsirkan oleh para ahli dari prasasti-prasasti, babad-babad, lontar serta tulisan-tulisan dari sejarahwan asing barat. Ragam hulu keris merupakan salah satu peninggalan yang bisa dipakai untuk melacak sejarah, biarpun belum ada sejarahwan yang melakukannya secara ilmiah, seperti penemuan arkeologi dan peninggalan sejarah (artefak) lainnya”. (Suhartono Rahardjo; Ragam Hulu Keris, Sejak Zaman Kerajaan, hal. XII, >Penerbit Kreasi Wacana, Januari 2003).

Keris sebagai benda ideologis menghimpun simbol-simbol pengetahuan dan kepercayaan yang sangat kompleks yang berkembang di Nusantara. Oleh karena, pembuatan keris penuh dengan simbolisme dan filosofi, bahwa bagian tangkai keris yang diselubungi hulu keris disebut peksi (tang) sebagai simbol Lingga atau kelamin pria dan bagian bilah keris yang melintang disebut gånjå (crosspiece of the blade) adalah simbol Yoni atau kelamin wanita. Dalam penyatuannya itu dianggap melahirkan suatu kekuatan dahsyat yang diinterpretasikan sebagai lahirnya roh baru (spirit baru). Oleh adanya pemahaman ini, maka muncul inspirasi yang digambarkan secara kreatif pada hulu keris dalam bentuk makhluk yang aneh sebagai penguasa yang duduk bersimpuh pada bilah keris. Penggambaran makhluk itu dibuat seolah menatap ke bawah, mengawasi sekelilingnya, menjaga keseluruhan perwujudan dari keris. Sehingga manifestasi kekuatan keris seolah terwakili oleh hulu keris tersebut.

Hulu keris jaman Singhasari disebut Yaksha, digambarkan sebagai raksasa telanjang yang duduk diatas ornamen tumpal (flora dalam bentuk segitiga), kemudian mempengaruhi karya-karya di wilayah lainnya, di wilayah Cirebon disebut Buthå Bajang.

Hulu keris jaman Singhasari disebut Yaksha, digambarkan sebagai raksasa telanjang yang duduk diatas ornamen tumpal (flora dalam bentuk segitiga), kemudian mempengaruhi karya-karya di wilayah lainnya, di wilayah Cirebon disebut Buthå Bajang.

Dari sinilah kemudian ”seni” hulu keris terus berkembang, mengalami penyesuaian dengan kepercayaan atau agama yang ada pada waktu itu. Menjadi sebuah ekspresi dari situasi pada masa itu, pertanda status sosial, dan keterlibatannya dalam tradisi berbusana adat. Sekarang kesenian hulu keris menjadi sangat menarik untuk dikoleksi secara terpisah dari kerisnya, dan menjadi kekaguman kita terhadap kesenian masa lampau. Banyak kolektor baik bangsa asing maupun dalam negeri yang telah memajangkan koleksi hulu keris pada lemari pajangnya.

Keterangan yang melatari setiap foto hulu keris yang disajikan disini bisa diikuti dengan membaca deskripsi.
Houw Lou (sebotol air) adalah simbol kepercayaan bangsa Mongolia sebagai bekal untuk hidup agar selamat dalam perantauannya hingga kembali ke tanah airnya. Houw Lou juga dipakai sebagai simbol pada kepercayaan Konghucu dipajang di kuil-kuil. Hulu keris ini diperkirakan buatan jaman Singhasari, bahannya dari batu giok merah yang diberi kombinasi emas.
Houw Lou (sebotol air) adalah simbol kepercayaan bangsa Mongolia sebagai bekal untuk hidup agar selamat dalam perantauannya hingga kembali ke tanah airnya. Houw Lou juga dipakai sebagai simbol pada kepercayaan Konghucu dipajang di kuil-kuil. Hulu keris ini diperkirakan buatan jaman Singhasari, bahannya dari batu giok merah yang diberi kombinasi emas.

Hulu keris Balu Mekabun menggambarkan manusia setengah rangda, dalam kepercayaan kuno di Bali dipahami sebagai perwujudan orang sedang ”ngeleak” (menjadi leak). Ngeleak adalah suatu ritual di Bali yang berasal dari ajaran Tantrisme dimana seseorang dapat menuju kesempurnaan jika dapat menyatukan wujudnya dengan bayangan tubuhnya sendiri. Pada beberapa catatan lain, ngeleak yang dianggap sebagai ilmu pengiwa itu, sebenarnya tak beda dengan kundalini; yaitu ilmu kesempurnaan mencapai moksa. Menurut Martin Kerner hulu keris ini menggambarkan Dewi Durga yang wajahnya tertutup kedok sebagai representasi dewa kematian. Sedangkan menurut Karsten Sejr Jensen; hulu keris ini merupakan figur yang wajahnya tertutup, karena tidak ada yang tahan setelah melihat wajahnya. Balu Mekabun dari bahasa Kawi berarti janda berwajah terselubung. Diperkirakan dipasang pada keris untuk ekskusi hukuman mati. Foto 1, hulu keris dari Bali; Foto 2. gaya Cirebon; 3. gaya Palembang.
Hulu keris Balu Mekabun menggambarkan manusia setengah rangda, dalam kepercayaan kuno di Bali dipahami sebagai perwujudan orang sedang ”ngeleak” (menjadi leak). Ngeleak adalah suatu ritual di Bali yang berasal dari ajaran Tantrisme dimana seseorang dapat menuju kesempurnaan jika dapat menyatukan wujudnya dengan bayangan tubuhnya sendiri. Pada beberapa catatan lain, ngeleak yang dianggap sebagai ilmu pengiwa itu, sebenarnya tak beda dengan kundalini; yaitu ilmu kesempurnaan mencapai moksa. Menurut Martin Kerner hulu keris ini menggambarkan Dewi Durga yang wajahnya tertutup kedok sebagai representasi dewa kematian. Sedangkan menurut Karsten Sejr Jensen; hulu keris ini merupakan figur yang wajahnya tertutup, karena tidak ada yang tahan setelah melihat wajahnya. Balu Mekabun dari bahasa Kawi berarti janda berwajah terselubung. Diperkirakan dipasang pada keris untuk ekskusi hukuman mati. Foto 1, hulu keris dari Bali; Foto 2. gaya Cirebon; 3. gaya Palembang.

http://www.keriskamardikan.com/images/stories/artikel/hulu-keris/New%20Picture%20%283%29.jpg

Hulu keris Jawa Demam dari Cirebon, menggambarkan makhluk berkepala burung yang sedang demam. Menurut dongeng rakyat Melayu mengisahkan, seorang raja memesan hulu keris kepada pengrajinnya. Hingga larut malam pengrajin itu tidak mendapat inspirasi, ia merasa kedinginan lalu menutup tubuhnya dengan kain sarung, sambil membuat arca kecil menggambarkan dirinya yang sedang kedinginan. Esoknya raja datang, tetapi justru menjadi senang melihat arca itu. Lalu mulailah bentuk-bentuk seperti itu dibuat untuk hulu keris yang menghiasi keris.

Hulu keris ini disebut Dewa Bayu, pada tangan kirinya memegang cermin sebagai simbol kekuatan Dewa Indra. Dewa Bayu merupakan simbolisasi untuk kemakmuran agraris karena dapat mengatur angin, mendorong awan di langit agar turun hujan yang membuat tanah subur.
Hulu keris ini disebut Dewa Bayu, pada tangan kirinya memegang cermin sebagai simbol kekuatan Dewa Indra. Dewa Bayu merupakan simbolisasi untuk kemakmuran agraris karena dapat mengatur angin, mendorong awan di langit agar turun hujan yang membuat tanah subur.

Toni Junus
About me:
Toni Junus is a kris designer and kris writer.
Implement the exhibition "Kris Kamardikan Award 2008" under the Panji Nusantara and Bentara Budaya Jakarta. As the chairman to held “Keris For The World 2010” exhibition, Panji Nusantara cooperated with> The Indonesian Cultural and Tourism Ministry at The National Gallery Indonesia, Jakarta.
Address :
Jl. Medan II, Blok F 79, Masnaga, Jaka Sampurna – Bekasi Selatan (17146).
HP. 0858 6621 3057.

Jumat, 17 Agustus 2012

Syeh Siti Jenar Versi Serat Negara Kertabumi

Jumat, 17 Agustus 2012-Denmas Priyadi Blog: Cerita eksekusi Syeh Siti Jenar versi Serat Negara Kertabumi berbeda dengan versi-versi lain yang biasa kita baca dan saksikan dalam buku-buku maupun film. Hal ini sebagaimana suntingan Rahman Sulendraningrat dalam buku "Siti Jenar-Cikal Bakal Faham Kejawen" tulisan YB. Prabaswara, halaman 32-34:

"Seperti juga versi Jawatengahan, sastra Kacirebonan ini menceritakan bahwa para pengikut Syeh Siti Jenar di Cirebon merupakan kelompok oposisi atas kekuatan kasultanan Cirebon. Beberapa tokoh pimpinan kelompok ini pernah mencoba untuk merebut tahta tapi tak pernah berhasil. Ketika Pengging dilumpuhkan, Syeh Siti Jenar yang pada waktu itu menyebarkan ajarannya di sana kembali ke Cirebon dan diikuti oleh para pengikutnya dari Pengging. Di sini, kekuatan Syeh Siti Jenarmenjadi kokoh, pengikutnya meluas dan menyebar sampai ke desa-desa. Setelah Syeh Datuk Kahfi wafat, Sultan Cirebon meminta Pangeran Punjungan untuk menjadi guru agama Islam di Amparan Jati. Pangeran Punjungan bersedia, tetapi ia tidak mendapat murid karena orang-orang sudah menjadi murid Syeh Siti Jenar termasuk Panglima bala tentara Cirebon, Pangeran Carbon. Dijaga oleh para murid-muridnya sangat setia itu, Syeh Siti Jenar aman tinggal di Cirebon.

Berita ini sampai ke telinga Sultan Demak, bahwa musuhnya berada di Cirebon. Sultan Demak lalu mengutus Sunan Kudus disertai 700 prajurit menuju Cirebon. Sultan Cirebon menerima permintaan Sultan Demak dengan tulus, bahkan memberi bantuan untuk tujuan itu.

Langkah pertama Sultan Cirebon adalah mengumpulkan para murid utama Syeh Siti Jenar antara lain, Pangeran Carbon, para Kyai Geng, Ki Palumba, Adipati Cangkuang, dan beberapa orang istana Pangkuangwati. Selajutnya bala tentara Cirebon dan Demak bergerak menuju Padepokan Syeh Siti Jenar di Cirebon Girang. Syeh Siti Jenar kemudian ditangkap dan dibawa ke Masjid Agung Cirebon untuk diadili. di sana para ulama telah berkumpul.

Sunan Gunung Jati Gunung Jati bertindak sebagai hakim ketua. Melalui perdebatan yang panjang, pengadilan memutuskan bahwa Syeh Siti Jenar bersalah besar, dan pengadilan memutuskan bahwa Syeh Siti Jenar mendapat hukuman mati. Selang beberapa waktu, akhirnya Syekh Siti Jenar dieksekusi mati oleh Sunan Kudus dengan keris pusaka Sunan Gunung Jati. peristiwa ini terjadi pada bulan Safar, tahun 923 H atau 1506 Masehi.

Selasa, 31 Juli 2012

Guru yang Profesional dan Efektif


Thursday, 12 February 2009 17:45
Hits: 7493
Pada era otonomi pendidikan, pemerintah daerah memiliki kewenangan yang amat besar bagi penentuan kualitas guru yang diperlukan di daerahnya masing-masing. Oleh karena itu di masa yang akan datang, daerah benar-benar harus memiliki pola rekrutmen dan pola pembinaan karier guru agar tercipta profesionalisme pendidikan di daerah.
Dengan pola rekrutmen dan pembinaan karier guru yang baik, akan tercipta guru yang profesional dan efektif. Untuk kepentingan sekolah, memiliki guru yang profesional dan efektif merupakan kunci keberhasilan bagi proses belajar-mengajar di sekolah itu. Bahkan, John Goodlad, seorang tokoh pendidikan Amerika Serikat, pernah melakukan penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa peran guru amat signifikan bagi setiap keberhasilan proses pembelajaran. Penelitian itu kemudian dipublikasikan dengan titel: Behind the Classroom Doors, yang di dalamnya dijelaskan bahwa ketika para guru telah memasuki ruang kelas dan menutup pintu-pintu kelas itu, maka kualitas pembelajaran akan lebih banyak ditentukan oleh guru. Hal ini sangat masuk akal, karena ketika proses pembelajaran berlangsung, guru dapat melakukan apa saja di kelas. Ia dapat tampil sebagai sosok yang menarik sehingga mampu menebarkan virus nAch (needs for achievement) atau motivasi berprestasi, jika kita meminjam terminologi dari teorinya McCleland. Di dalam kelas itu seorang guru juga dapat tampil sebagai sosok yang mampu membuat siswa berpikir divergent dengan memberikan berbagai pertanyaan yang jawabnya tidak sekedar terkait dengan fakta, ya-tidak. Seorang guru di kelas dapat merumuskan pertanyaan kepada siswa yang memerlukan jawaban secara kreatif, imajinatif – hipotetik, dan sintetik (thought provoking questions). 
Sebaliknya, dengan otoritasnya di kelas yang begitu besar itu, bagi seorang guru juga tidak menutup kemungkinan untuk tampil sebagai sosok yang membosankan, instruktif, dan tidak mampu menjadi idola bagi siswa di kelas. Bahkan dia juga bisa berkembang ke arah proses pembelajaran yang secara tidak sadar mematikan kreativitas, menumpulkan daya nalar, mengabaikan aspek afektif, dan dengan demikian dapat dimasukkan ke dalam kategori banking concept of education-nya Paulo Friere, atau learning to have-nya Eric From. Pendek kata, untuk melindungi kepentingan siswa, dan juga untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) di daerah dalam jangka panjang di masa depan, guru memang harus profesional dan efektif di kelasnya masing-masing ketika ia harus melakukan proses belajar-mengajar.
Dalam konteks otonomi pendidikan, hasil penelitian John Goodlad tersebut memiliki implikasi bahwa pemerintah daerah perlu menciptakan sebuah sistem rekrutmen dan pembinaan karier guru agar para guru benar-benar memiliki profesionalisme dan efektivitas yang tinggi supaya ketika ia memasuki ruang kelas mampu menegakkan standar kualitas yang ideal bagi proses pembelajaran. Suatu pekerjaan dikatakan profesional jika pekerjaan itu memiliki kriteria tertentu. Jika kita mengikuti pendapat Houle, ciri-ciri suatu pekerjaan yang profesional meliputi: (1) harus memiliki landasan pengetahuan yang kuat; (2) harus berdasarkan atas kompetensi individual (bukan atas dasar KKN-pen.); (3) memiliki sistem seleksi dan sertifikasi; (4) ada kerjasama dan kompetisi yang sehat antar sejawat; (5) adanya kesadaran profesional yang tinggi; (6) memiliki prinsip-prinsip etik  (kode etik); (7) memiliki sistem sanksi profesi; (8) adanya militansi individual; dan  (9) memiliki organisasi profesi. Dari ciri-ciri ini Kantor Dinas Pendidikan di daerah dapat menterjemahkan ke dalam sistem rekrutmen dan pembinaan karier guru agar profesi-onalisme guru dapat selalu ditingkatkan di daerahnya masing-masing. Tanpa berbuat seperti itu kualitas guru akan selalu ketinggalan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kata lain, agar guru tetap profesional perlu ada sistem pembinaan karier yang baik, tersistem, dan berkelanjutan.
Guru yang profesional perlu melakukan pembelajaran di kelas secara efektif. Kemudian, bagaimana ciri-ciri guru yang efektif ? Menurut Gary A. Davis dan Margaret A. Thomas, paling tidak ada empat kelompok besar ciri-ciri guru yang efektif. Keempat kelompok itu terdiri dari: Pertama, memiliki kemampuan yang terkait dengan iklim belajar di kelas, yang kemudian dapat dirinci lagi menjadi (1) memiliki keterampilan interperso-nal, khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati, penghargaan kepada siswa, dan ketulusan; (2) memiliki hubungan baik dengan siswa; (3) mampu menerima, mengakui, dan memperhatikan siswa secara tulus; (4) menunjukkan minat dan antusias yang tinggi dalam mengajar; (5) mampu menciptakan atmosfir untuk tumbuhnya kerja sama dan kohesivitas dalam dan antar kelompok siswa; (6) mampu melibatkan siswa dalam meng-organisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran; (7) mampu mendengarkan siswa dan menghargai hak siswa untuk berbicara dalam setiap diskusi; (8) mampu meminimal-kan friksi-friksi di kelas jika ada.
Kedua, kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen pembelajaran, yang meliputi: (1) memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menangani siswa yang tidak memiliki perhatian, suka menyela, mengalihkan pembicaraan, dan mampu memberikan transisi substansi bahan ajar dalam proses pembelajaran; (2) mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berpikir yang berbeda untuk semua siswa.
Ketiga, memiliki kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik (feedback) dan penguatan (reinforcement), yang terdiri dari: (1) mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon siswa; (2) mampu memberikan respon yang bersifat membantu terhadap siswa yang lamban belajar; (3) mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban siswa yang kurang memuaskan; (4) Mampu memberikan bantuan profesional kepada siswa jika diperlukan.
Keempat, memiliki kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri, terdiri dari: (1) mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif; (2) mampu mem-perluas dan menambah pengetahuan mengenai metode-metode pengajaran; (3) mampu memanfaatkan perencanaan guru secara kelompok untuk menciptakan dan mengembang-kan metode pengajaran yang relevan.

Pemecahan Masalah dan Pengambilan Keputusan


Kita memecahkan masalah dan membuat keputusan setiap hari dan sepanjang hari:
di rumah, ditempat kerja, di tempat bermain, bahkan di toko pangan.
Beberapa masalah dan keputusan sangat menantang,
dan membutuhkan sejumlah pemikiran, emosi, dan penelitian.Langkah-langkah pedoman ini dirancang untuk membantu Anda untuk membuat keputusan yang baik.
Selamat beruntung!
keleluasaan
Prosedur ini tampak seperti kalau seseorang bergerak teratur langkah demi langkah. Bukan hal ini yang dimaksud. Langkah-langkah ini memudahkan mempersiapkan suatu struktur kerja terhadap permasalahan . Semua ini tumpang tindih, dan Anda boleh kembali pada langkah awal atau mengerjakannya secara serentak, sejauh anda pikir sebagai pemecahan yang terbaik.

Contoh Fleksibilitas (kelenturan):
  • Informasi terjadi di semua langkah— berawal dari pengenalan masalah dan penerapan pemecahannya.
  • Informasi baru dapat mendorong Anda untuk mendifinisikan kembali permasalahan.
  • Alternatif mungkin tidak dapat dikerjakan, dan Anda harus menemukan sesuatu yang lain.
  • Beberapa langkah mungkin digabungkan atau disederhanakan.
Mendifinisikan Permasalahan/Masalah
Apa yang menghalangi Anda untuk mencapai tujuan?
Anda harus dapat menerangkan permasalahan di dalam terminologi yang luas selama permasalahan yang tepat tidak jelas
*Anda mungkin kekurangan informasi untuk mendifinisikannya
* Anda dapat mengacaukan simpton dengan menggarisbawahi penyebab-penyebab. 

Siapkan sebuah pernyataan permasalahan dan temukan seseorang yang Anda percaya untuk mengujinya dan membicarakannya. Kalau permasalahan adalah situasi pekerjaan, diuji dengan pembimbing Anda melalui komisi atau sumber yang sesuai.
Pertimbangkan pertanyaan-pertanyaan ini :
  • Apa masalahnya?
  • Apakah masalah saya?
  • Dapatkah saya memecahkannya? Apakah sulit dipecahkan?
  • Apakah benar-benar masalah, atau cenderung sebagai simpton yang luas?
  • Kalau ini suatu masalah lama, apa yang salah dengan penyelesaian sebelumnya?
  • Apakah itu membutuhkan pemecahan secepatnya, atau dapatkah ditunda?
  • Itu seperti menghindar dari permasalahan itu sendiri?
  • Dapatkah saya mengesampingkan resiko?
  • Apakah permasalahan mengandung dimensi etik?
  • Dengan kondisi bagaimana penyelesaian itu harus memuaskan?
  • Apakah penyelesaian berpengaruh terhadap sesuatu yang tidak seharusnya diubah?
Mengumpulkan Informasi
Fakta & Data
  • Penelitian
  • Hasil dari percobaan dan studi
  • Wawancara terhadap ahli dan sumber yang dipercaya.
  • Kejadian-kejadian yang diobservasi, masa lalu atau kini, termasuk observasi perorangan dan laporan
Batas-batas
Batas-batas atau kendala situasi sulit diubah. Kekurangan dana atau sumber-sumber lain. Bila suatu pemecahan diliputi begitu banyak kendala, kendala itu sendiri mungkin juga menjadi masalah.
Pendapat dan Praduga (asumsi).  Pendapat pengambil keputusan, komite atau kelompok, atau kelompok lain yang kuat akan sangat penting untuk menyukseskan keputusan Anda. Hal ini penting untuk mengakui kebenaran, penyimpangan, atau prasangka di dalam suatu pendapat.
Praduga dapat menghemat waktu dan kerja selama sering kesulitan memperoleh semua fakta. Mengakui sesuatu yang diterima dengan keyakinan. Praduga juga ada faktor resikonya, yang harus diakui, dan semua itu akan hilang jika diuji secara keliru.



Sabtu, 21 Juli 2012

KYAI SINGALODRA By J.Dananjaya


SENIN, 16 APRIL 2012 - SITA BLOG - Diceritakan, daerah Cilacap acapkali disatroni para perampok dan para penjahat. Mereka menyerang dengan membabi buta, merampas harta benda, membunuh dengan sadis bagi siapa saja yang melawan mereka.

Pasukan keamanan Kadipaten Cilacap tidak mampu menghalau para perampok dan penjahat yang sering menggasak harta benda para penduduk. Jumlah pasukan keamanan sangat sedikit jika dibanding dengan para perampok yang begitu besar. Akibatnya, banyak para penduduk yang berpindah ke kampung lain yang lebih aman. Mereka pergi mengungsi untuk mencari daerah lain karena di daerahnya sudah tidak bisa lagi hidup tenang, aman dan tentram.

Menghadapi persoalan ini Adipati Cilacap menjadi sangat gelisah. Akhirnya, ia melaporkan keadaan itu kepada Sri Sunan Solo. Ia mengharap agar memperoleh bala bantuan guna mengamankan daerahnya.
Mendengar laporan ini Sri Sunan segera mengirimkan pasukan keamanan di bawah pimpinan Kyai Singalodra, Kyai Jayabaya, dan Jogolaut. Mereka semua merupakan prajurit-prajurit pilihan yang memiliki kemampuan Kanuragan yang tinggi dan mumpuni. Sejak dikirimkannya pasukan-pasukan keamanan dibawah pimpinan Kyai Singalodra, keamanan di Kabupaten Cilacap berangsur-angsur semakin membaik. Para penjahat sedikit demi sedikit mulai meninggalkan daerah operasi mereka, ada yang kembali ke kampung halaman mereka di luar pulau Jawa.

Akan tetapi, pada suatu ketika tiba-tiba datang sekawanan perampok dalam jumlah yang sangat besar. Mereka menyerang secara menggebu-gebu namun semuanya masih bisa diatasi, mereka tak mampu mengalahkan kedigjayaan Kyai Singalodra, Kyai Jayabaya, dan Jogolaut. Mereka semua dapat dihalau, banyak di antara mereka yang mati dan banyak pula yang lari tunggan langgang meninggalkan Cilacap. Rupanya dari sebagian mereka ada sekelompok kecil yang selamat menyembunyikan diri. Kelompok inilah yang berencana untuk membalas dendam pada Kyai Singalodra dengan mencari kesempatan saat Kyai Singalodra lengah.

Suatu ketika saat Kyai Singalodra berjalan sendiri mengadakan pemeriksaan dengan membawa lima buah kelapa yang merupakan kesenangannya, ia disergap dari belakang oleh kawanan perampok yang mempunyai dendam pada Kyai Singalodra. Mereka membunuh Kyai Singalodra secara pengecut dan keji dengan membatainya dari belakang.

Setelah kejadian yang tragis dan menyedihkan itu, Kadipaten Cilacap semakin diperketat keamanannya. Pimpinan diambil alih oleh Kyai Jayabaya dan Jogolaut yang terus menggejar para perampok yang telah membantai Kyai Singalodra dan menangkap mereka dan memberikan hukuman yang setimpal. Bagi mereka yang melawan tewas di tangan Kyai Jayabaya dan Jogolaut. Sebagian dari para perampok itu ada yang insyaf menjadi orang baik-baik dan tetap tinggal di Kadipaten Cilacap. Mereka membangun sebuah perkampungan yang diberi nama Kampung Penjagaan. Perkampungan Penjagaan ini terdiri dari Kampung Mutaian, Klaces, Ujung Gagak, dan Ujung Alang. Kesemuanya didirikan di atas laut.

Menurut cerita penduduk setempat kisah ini dipercaya memang pernah terjadi, dan merekapun dapat menunjukkan makam Kyai Singalodra yang sampai kini masih dikramatkan orang. Pada saat-saat tertentu terutama pada setiap hari Selasa dan Jumat Kliwon masih banyak orang-orang yang berziarah ke makam Kyai Singalodra untuk memohon berkah.

Konon kabarnya, menurut kepercayaan penduduk setempat, mereka sering melihat seekor harimau gaib berwarna putih yang sering muncul pada hari-hari kramat, malam Selasa dan malam Jumat Kliwon di sekitar makam Kyai Singalodra. Dan harimau putih tersebut merupakan jelmaan dari Kyai Singalodra. (Sita 06)