Sabtu, 04 Januari 2014

Tradisi Potong Jari Masyarakat Papua


Budaya Nusantara – Sabtu, 04 Januari 2014 16:43 WIB


Tradisi potong jari masyarakat Papua
Indonesia memang memiliki beragam budaya, mulai dari musik , pakaian, adat istiadat, rumah,dll.Bahkan disetiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing.Kali ini beberapa tradisi yang mewakili keanekaragaman budaya Indonesia yang unik dan mungkin hanya ada di Indonesia...kita simak yuuk GAINERS....artikel dibawah ini Yaitu "TRADISI POTONG dari PAPUA"

Menangis, mungkin itu yang lakukan saat kita didera kesedihan. Namun, berbeda dengan masyarakat Papua pedalaman, mereka memotong jari mereka sendiri untuk menunjukkan rasa kesedihan mereka. Terdengar sadis memang, namun itulah salah satu bentuk kekayaan budaya kita.

Bagi mereka, tradisi ini disimbolkan sebagai bentuk kesedihan yang mendalam akan kehilangan anggota keluarga yang meninggal. Semakin banyak kita melihat warga Papua pedalaman memotong jarinya maka dapat diartikan telah banyak pula anggota keluarga yang mereka cintai telah meninggal dunia.

Bahkan, masyarakat terdahulu Lembah Baliem, sebuah lembah pegunungan yang cukup terkenal, pernah ada tersingkap kasus dimana seorang ibu yang memotong jari anaknya yang baru lahir dengan cara menggigitnya karena ingin menghilangkan “kesialan” yang selama ini menderanya. Ia percaya dengan ia memotong jari anaknya maka kesialan yang selama ini ia alami dapat hilang.

Sumber:
GAIN Indonesia
23 November 2013

Kamis, 02 Januari 2014

Semua Dewa Keturunan Adam



Wayang Islami – Rabu, 01 Januari 2014 WIB

Sanghyang Wenang
Dalam silsilah wayang yang bukan berasal dari kitab Adiparwa, manusia pertama kali adalah Nabi Adam. Hal ini sebagaimana dituturkan Padmosukoco yang dipetik dari kitab para pujangga zaman dahulu. Uraiannya adalah sebagai berikut,

Tersebutlah dalam buku-buku karangan para pujangga pada masa dahulu, bahwa yang menurunkan segenap dewa-dewa di Suralaya dengan segala titahnya di Marcapada adalah, Nabi Adam dan Dewi Hawa. Hal ini sebagaimana yang tertulis dalam buku:

1.       Paramayoga dan Pustakarajapurwa:
Keturunan Adam urutannya sebagai berikut: Adam – Sis – Anwas dan Anwar – Nurrasa – Wenang – Tunggal – Ismaya – Wungkuhan (Jagad Wungku, Bongkokan) – Smarasanta (Semar).

2.       Serat Kanda:
Adam – Sis – Anwas dan Anwar –Nurrasa – Wenang – Tunggal (Semar) – Sabu (Betara Guru). Ada pun Manikmaya adalah Iblis bernama Idajil.

3.       Mahabarata (Astadasapurwa):
Para Dewa terjadi dari pecahan telur gaib, Antiga Maha dwipa yaitu Brahma. Antiga Maha dipa inilah asal Hyang Brahma, Hyang Prajapati, Hyang Pracetas dan Hyang Daksa. Para Hyang atau Dewa yang sepuluh itu kemudian menurunkan para dewa-dewa yang lain, para bidadari, manusia, kera, raksasa.

4.       Menurut buku-buku atau cerita pedalangan:
Silsilah para dewa yang kemudian menurunkan wayang-wayang / manusia sebagai berikut: Istri Adam bernama Hawa, mempunyai anak banya sekali, kembar lelaki perempuan. Hanya Sis yang tak kembar. Adam dan Hawa itulah yang menjadi asal-usul manusia di dunia. Maksudnya Adam menurut serat Kanda*) anak yang tampan dijodohkan dengan putrinya yang tidak cantik. Hanya Kabil seorang yang membangkang dengan keputusan ayahnya, Nabi Adam.

Kabil yang berwajah tampan ini protes pada ayahnya agar ia dijodohkan dengan saudaranya yang cantik yang diberikan pada adiknya, Habil. Akan tetapi karena itu sudah menjadi keputusan, permintaan Kabil ditolak.  Kabil merasa sangat kecewa dengan ayahnya, ia iri pada adiknya dan nafsu jahat merasuk  jiwanya, maka ia pun membunuh  Habil  dan istri Habil diambilnya. Akhirnya Kabil menjadi murid Iblis Idajil yang bernama Manikmaya. Dengan demikan menurut Serat Kanda, Manikmaya bukanlah Batara Guru. Dari perkawinannya ini Kabil memiliki putra bernama Dabil dan Daliyah. Sis menurut serat Ambiya**) beristrikan Dewi Mulat yang melahirkan dua anak yaitu, Anwas dan Anwar. Anwas menurunkan para nabi sedangkan Anwar menurunkan para Dewa, pendeta, dan para raja. Tentu saja keturunan Anwar itu semuanya adalah manusia biasa.***)

Demikianlah silsilah asal-usul  pewayangan.  Jelasnya menurut cerita pedalangan para Dewa-Dewa, Raja-Raja, dan manusia lainnya adalah keturunan Adam.  Cerita pedalangan ini tertulis dalam serat Ambiya. Dalam serat tersebut diuraikan tentang asal-usul kejadian dunia beserta isinya, terutama para Nabi-Nabi.

Tentang terjadinya dunia dituturkan bahwa pada awalnya Allah menciptakan cahaya lalu mengental menjadi sesotiya atau barlian, kemudian menjadi air, buih. Buih ini pada akhirnya menjadi bumi dan menjadi langit ke tujuh. Adam kemudian menurunkan para nabi, dewa, raja,  manusiayang  lainnya, dan seterusnya.****)

Setelah terdahulu kita membahas pengertian wayang, macam-macam wayang, asal-usul wayang dan perkembangan wayang purwa, maka dapat kita simpulkan:

·         Ada dua macam pengertia wayang, yaitu wayang yang berarti “bayang-bayang”, dan “ wayang yang berarti “bayangan pikiran”.
·         Macam-macam wayang tidak kurang dari 13 macam, dan wayang purwa merupakan salah satu di antara dari yang 13 macam itu
·         Sumber isi lakon cerita wayang Purwa diilhami oleh Kitab Ramayana dan Mahabarata berbahasa Jawa kuna yang tentu saja diambil dari kitab Ramayana dan Mahabarata berbahasa Sansekerta(India).
·         Baik silsilah maupun ceritanya, sudah banyak berubah dari aslinya bahkan banyak cerita-cerita baru seperti, Batara Guru dan dewa-dewa merupakan keturunan Adam sehingga tidak lagi dianggap syirik, menyekutukan Tuhan dalam cerita pedalangan.
·         Ujud wayang Purwa kulit seperti yang sudah ada itu adalah asli ciptaan asli Indonesia yang dirubah dan disempurnakan oleh para wali penyebar agama Islam pada sekitar awal berdirinya kerajaan Demak.
·         Sebelum era kerajaan Demak, fungsi wayang (Beber) hanya untuk keluarga raja, sedangkan pada masa era Demak wayang kulit digunakan sebagai media da’wah Islam dan menjadi kebudayaan rakyat.

Catatan:
*) Serat Kanda yang ditulis pada zaman Kartasura
**) Menurut Prof. Dr. R.M Ng. Poerbotjaroko. Serat Ambiya cerita Arab, masuknya ke Jawa sekitar akhir masa kerajaan Mataram.
***) Padmasukatja, Wayang Purwa Sarasilah Mawa Sesuluh, hal. 1-2
****) Prof. R.M. Ng. Poerbotjaroko, Kepustakaan Jawi, hal. 122

Jakarta, 7 Desember 1981
Penulis :
Drs. H. Effendi Zarkasi   

Posted:
Drs. Slamet Priyadi
Pangarakan, Bogor


Rabu, 01 Januari 2014

Suatu Ketika di Malam Tahun Baru by Slamet Priyadi

Kembang api warna-warni hiasi langit biru di Malam Tahun Baru
Suatu Ketika di Malam Tahun Baru
Karya: Slamet Priyadi
 Saat sendiri dalam kamar yang gelap gulita
Mesu diri ‘ngeraga sukma lepaskan jiwa dari raga
Kembara ke seluruh negeri naik Rajawali
Tunggangi Garuda Pancasila sakti
Yang menjadi pedoman diri dalam memcari jati diri
Menjadi sejatinya manusia, manusia sejati
Maka terbanglah aku ke angkasa raya
Melanglanglang buana dengan gagah perkasa
Kepakkan sayap seluas jagad membuka selimut pertiwi,
Penutup segala geraknya kehidupan masyarakat di bumi
Saat malam tahun baru rayapi semua kota-kota di Nusantara
Dari Sabang di Sumatra hingga sampai Merauke di Papua
Aku tundukkan kepala menatap ke bawah
Saksikan manusia di semua kota yang begitu melimpah ruah
 Sambut tahun baru dengan berbagai macam hiburan yang meriah
Bermewah-mewah meski habiskan biaya miliaran rupiah
Suara mercon, dentum petasan, terompet, dan klakson  kendaraan
Terasa begitu memekakkan telinga kiri dan kanan
Warna-warni kembang api di angkasa adalah keindahan
Seperti lukisan-lukisan yang ada di gedung-gedung pameran   
Di hotel-hotel mewah para hidung belang
berasyik-masyuk dengan wanita-wanita jalang
tak peduli seberapa banyak keluarkan uang
yang penting gelora birahi tersalurkan dengan lapang
Sementara di tempat-tempat hiburan
Saat kelompok musik beraksi di panggung lapangan
Para pencopet gerayangi saku celana, curi dompet penonton
yang tak sadar asyik bergoyang nikmati musik sekarang
Para polisi tak tampak lelah sibuk mengatur lalu lintas di jalan
yang begitu padat dengan beribu-ribu macam jenis kendaraan
berseliweran di antara manusia yang berjubel berdesak-desakkan
bahkan ada yang saling senggol, saling sikut bahkan kentut
sementara pedagang terompet sedikit memaksa jajakan dagangan
mereka saling bersaing harga-harga dijatuhkan
padahal malam masih merayap perlahan di perut malam
Gegap gempita malam tahun baru memang menggema di segala penjuru
Lupakan sejenak dari haru biru segala masalah yang  membelenggu
Dari kasus-kasus korupsi yang belum terungkap
yang dilakukan oleh para manusia bermuka rangkap
Meski berilmu dan berpendidikan tinggi, tetapi bisanya hanya minteri
Selalu cari siasat agar selamat dari kasus hukum yang menjerat
dialah para politikus, tikus-tikus yang bersifat tamak dan rakus
dialah para penegak hukum yang suka memalak dan mengaum
dialah para pejabat bejat, yang suka mengerat uang rakyat
yang pandai merubah diri, merubah wajah, dan mahir berargumentasi
Sementara di desa-desa terpencil masih banyak masyarakat kecil
 yang hidupnya melarat tak memiliki tanah, tak memiliki rumah
apa lagi untuk menggarap kebun dan sawah  
bertahan hidup hanya dari hutan bambu dekat pondoknya yang mungil
  hanya dari hasil karyanya membuat kerajinan bambu yang dijual
dengan berjalan kaki berpuluh kilometer jaraknya dari pondok menuju pasar
jika malam hari tak ada penerang hanya pelita kecil
yang sumber apinya diolah dari buah jarak karena tak sanggup beli minyak
Begitulah sisi kehidupan di negeri ini
Negeri yang konon katanya kaya, subur makmur, aman dan sentosa,
Negeri yang gemah ripah loh jinawi, indah bagaikan zamrud di khatulistiwa
 yang tongkat kayu dan batu bisa menjadi tanaman
Namun kenyataannya, perbedaan hidup
begitu nyata antara si miskin dan si kaya
Sementara rasa persatuan antar sesama tak jelas arahnya
Terkoyak oleh peristiwa-peristiwa perang antar warga
Perang antar suku, bahkan antar agama
Belum lagi tawuran  pelajar yang menjadi tradisi dari tahun ke tahun
Semoga di tahun dua ribu empat belas ada perubahan yang meluas
Di seluruh Nusantara, di Negara Kesatuan Republik Indonesia
Semoga...

"Tahun Baru 2014"
Karya: Slamet Priyadi
Gegap gempita itu ceriakan perut malam
kembang api warna-warni saingi cahaya kemintang
sinar keindahan yang terang benderang
hiasi akaca, cerahkan birunya langit yang  membentang
bagai lukisan atma putih gita pertala 
sambut tahun baru dua ribu empat belas dengan suka cita
lewat bait puisi delapan baris ini, aku ucapkan salam kata
Selamat Tahun Baru 2014, semoga Indonesia ‘kan tetap jaya!
 
Bumi Pangarakan, Bogor
Rabu, 01 Januari 2014 15:54 WIB
SP091257

Denmas Priyadi Blog: "INILAH KARYAKU": Suatu Ketika di Malam Tahun Baru by Slamet Priyadi...: Kembang api warna-warni hiasi langit biru di Malam Tahun Baru Suatu Ketika di Malam Tahun Baru Karya: Slamet Priyadi   Saat ...

Selasa, 31 Desember 2013

DKI Beri Penghargaan Bagi Pelaku Seni Budaya



BERITAJAKARTA.COM — 27-12-2013 18:48
Arie Budhiman Kadisbudpar DKI
Pemprov DKI Jakarta memberikan Anugerah Budaya Tahun 2013 kepada seniman, grup kesenian, budayawan, pemerhati seni, pemerhati bangunan cagar budaya dan pemilik atau pengelola bangunan cagar budaya di ibu kota. Penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi Pemprov DKI Jakarta kepada mereka yang masih mau menggeluti seni budaya yang sudah banyak ditinggalkan oleh beberapa kalangan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta, Arie Budhiman mengatakan, penghargaan ini diberikan untuk mendorong para pelaku seni untuk terus menekuni kesenian yang digelutinya. Sehingga diharapkan, seni budaya di Jakarta akan tetap ada. "Ini mendorong mereka terutama para penerusnya untuk memiliki dedikasi yang tinggi dan terus menekuni apa yang digeluti," ujar Arie di Balaikota, Jumat (27/12).

Penghargaan ini, kata Arie, rutin diberikan setiap dua tahun sekali. Kali ini penghargaan diserahkan langsung Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama di Balaikota.

Penjaringan dan seleksi calon penerima penghargaan telah dilaksanakan sejak September 2013. Penghargaan tersebut akan diberikan kepada 6 seniman, 4 kelompok atau lembaga seni budaya, 2 orang budayawan, 2 orang pemerhati seni budaya, dan 2 orang pengelola atau pemilik bangunan cagar budaya.

Keenam seniman tersebut yakni, H. S Sanusi atau Babe Uci (guru besar Perguruan Silat PPS Putra Betawi), Nendra WD (seniman teater/lenong), Muhammad Taufiq (seniman keroncong), Hj Nori (pemain dan pembina topeng Betawi), H Mursyidi (seniman rebana biang), dan Ade Darmawan (seniman seni rupa).

Untuk kategori grup kesenian, penghargaan diberikan kepada Sanggar Galeri Betawi pimpinan Ahmad Sibli, Orkes Keroncong Bandar Jakarta pimpinan H Yoyo Muchtar, Pangker Grup (Topeng Blantek) pimpinan Marhasan dan Sanggar Tari Novi pimpinan Novianti.

Sedeangkan untuk kategori budayawan, penerima penghargaan adalah Prof Dr Yasmine Zaki Shahab dan Abduh Azis. Untuk kategori pemerhati seni, Dr Tuti Tarwiyah dan Hj Emma Agus Bisrie. Kategori pemerhati bangunan cagar budaya, Ella Ubaidi dan Martono Yuwono.

Sedangkan untuk bangunan cagar budaya, pengharaan diberikan kepada, Gedung PLN di Jl M Ridwan Rais No 1, Jakarta Pusat dan rumah tinggal Ibu Satuti Yamin di Jl Diponegoro No 10, Jakarta Pusat.

"Para penerima penghargaan ini sebelumnya telah dinilai oleh tim pengamat yang berasal dari unsur akademisi Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, Badan Kerjasama Kesenian Indonesia Nasional dan Provinsi DKI Jakarta, dan beberapa badan lainnya," tandas Arie.

Reporter: erna  | Editor: erik

Sabtu, 28 Desember 2013

Mengenang Si Burung Merak, Sang Maestro W.S Rendra (1935 - 2009)


Slamet Priyadi : “inilah Karyaku”- Sabtu, 28 Desember 2013 15:52 WIB
Si Burung Merak, W.S Rendra
W.S Rendra yang nama kepanjangannya, Willibrordus Surendra Broto Rendra, turun dari alam kelanggengan, melayang, melanglang ke marcapada, 7 November 1935. Mengembara ke dunia sastra di alam mayapada, merayap, merangkak bergelut, berjuang melalui karya-karyanya dengan tak kenal lelah dan putus asa.
Di era pemerintahan Soeharto yang militeristik dan anti kritik, acap kali beliau dilarang untuk pentas kebudayaan karena W.S Rendra secara terbuka mengkritik kebijakan Soeharto dalam program-program pembangunannya yang cenderung berpihak kepada para konglomerat, mengucikan masyarakat adat dan cenderung berpihak pada para konglomerat pemilik perusahaan multi nasional.
  
Meski berbagai rintangan dan cobaan terus menghadang, dijegal, ditahan, dan dipenjarakan, beliau tak pernah merasa gentar, terus menulis, terus berkarya, terus berjuang dengan pena saktinya itu, sampai akhirnya Tuhan Sang Maha Penguasa, Pencipta alam semesta dengan segala isinya memanggilnya untuk kembali keharibaan-Nya. Ia kembali ke alam kelanggengan yang memang sudah dirindukannya itu pada 6 Agustus 2009 di Depok, Jawa Barat dengan  usia 73 tahun karena menderita sakit.
Sang Burung Merak, W.S Rendra dikenal  sebagai  seorang dramawan, penyair, aktivis, pemain, aktor dan sutradara yang namanya begitu sangat dikenal baik di dalam maupun di mancanegara. Karya-karyanya merupakan potret kehidupan dengan segala romantikanya, linkungan alam, keadaan politik yang penuh dengan intrik-intrik, lingkungan keluarga, sosial, dan lain-lain. Pendek kata, tak ada satu peristiwa pun yang luput dari pena emas W.S Rendra, si Burung Merak ini. Dalam karya-karyanya, semua terungkap secara jelas, gamblang, dan terang-benderang. Berikut adalah beberapa contoh sajak-sajak karya W.S Rendra  yang saya kutip dari situs kumpulan-puisi.com. Sobat, selamat membaca dan menikmati sajak-sajak karya Sang Maestro Si Burung Merak W.S Rendra!


Lagu Seorang Gerilya
(Untuk puteraku Isaias Sadewa)

Engkau melayang jauh, kekasihku.
Engkau mandi cahaya matahari.
Aku di sini memandangmu,
menyandang senapan, berbendera pusaka.

Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,
engkau berkudung selendang katun di kepalamu.
Engkau menjadi suatu keindahan,
sementara dari jauh
resimen tank penindas terdengar menderu.

Malam bermandi cahaya matahari,
kehijauan menyelimuti medan perang yang membara.
Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,
engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu

Peluruku habis
dan darah muncrat dari dadaku.
Maka di saat seperti itu
kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan
bersama kakek-kakekku yang telah gugur
di dalam berjuang membela rakyat jelata

Jakarta, 2 september 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi

Lagu Serdadu

Kami masuk serdadu dan dapat senapang
ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang
Yoho, darah kami campur arak!
Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak

Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali
Wahai, tanah yang baik untuk mati
Dan kalau ku telentang dengan pelor timah
cukilah ia bagi puteraku di rumah

Siasat
No. 630, th. 13
Nopember 1959

Nina Bobok Bagi Pengantin

Awan bergoyang, pohonan bergoyang
antara pohonan bergoyang malaikat membayang
dari jauh bunyi merdu loceng loyang

Sepi, syahdu, rindu
candu rindu, ghairah kelabu
rebahlah, sayang, rebahlah wajahmu ke dadaku

Langit lembayung, pucuk-pucuk daun lembayung
antara daunan lembayung bergantung hati yang ruyung
dalam hawa bergulung mantera dan tenung

Mimpi remaja, bulan kenangan
duka cinta, duka berkilauan
rebahlah sayang, rebahkan mimpimu ke dadaku

Bumi berangkat tidur
duka berangkat hancur
aku tampung kau dalam pelukan tangan rindu

Sepi dan tidur, tidur dan sepi
sepi tanpa mati, tidur tanpa mati
rebahlah sayang, rebahkan dukamu ke dadaku.

~ W.S Rendra ~
Dipetik dari 4 Kumpulan Sajak
 
Nota Bele : Aku Kangen

Lunglai – ganas karena bahagia dan sedih,
indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana.
Nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit,
dan anak kita akan lahir di cakrawala.
Ada pun mata kita akan terus bertatapan
 hingga berabad-abad lamanya.

Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan
untukmu hidupku terbuka.
Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan
Isyarat-isyarat getaran ajaib menggerakkan penaku.
Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu
aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan.

Jakarta, Kotabumi, 24 Maret 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

Orang-orang Miskin

Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.

Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.

Bila kamu remehkan mereka,
di jalan kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.

Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim

Yogya, 4 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

Pamflet Cinta

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Aku menyaksikan zaman berjalan kalang-kabutan.
Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.
Aku merindui wajahmu.
Dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.
Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.
Kata-kata telah dilawan dengan senjata.
Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.
Kenapa keamanan justeru menciptakan ketakutan dan ketegangan.
Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sihat.
Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan.

Suatu malam aku mandi di lautan.
Sepi menjadi kaca.
Bunga-bungaan yang ajaib bertebaran di langit.
Aku inginkan kamu, tetapi kamu tidak ada.
Sepi menjadi kaca.

Apa yang bisa dilakukan oleh penyair
Bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan?
Udara penuh rasa curiga.
Tegur sapa tanpa jaminan.

Air lautan berkilat-kilat.
Suara lautan adalah suara kesepian
Dan lalu muncul wajahmu.

Kamu menjadi makna.
Makna menjadi harapan.
Sebenarnya apakah harapan?

Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.
Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.
Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu.
Aku tertawa, Ma!
Angin menyapu rambutku.
Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi.

Sepuluh tahun aku berjalan tanpa tidur.
*Punggungku karatan aku seret dari warung ke warung.
Perutku sobek di jalan raya yang lenggang…
Tidak. Aku tidak sedih dan kesepian.
Aku menulis sajak di bordes kereta api.
Aku bertualang di dalam udara yang berdebu.

Dengan berteman anjing-anjing geladak dan kucing-kucing liar,
Aku bernyanyi menikmati hidup yang kelabu.

Lalu muncullah kamu,
Nongol dari perut matahari bunting,
Jam dua belas seperempat siang.
Aku terkesima.
Aku disergap kejadian tak terduga.
Rahmatku turun bagai hujan
Membuatku segar,
Tapi juga menggigil bertanya-tanya.
Aku jadi bego, Ma!

Yaaahhhh, Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih.
Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku,
Dan sedih karena kita sering terpisah.
Ketegangan menjadi pupuk cinta kita.

Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih?
Bahagia karena nafas mengalir dan jantung berdetak.
Sedih karena fikiran diliputi bayang-bayang.
Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan.

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi,
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

~ W.S. Rendra ~
( Koleksi Puisi² Willibordus Surendra)

Rajawali

Sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri

Rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti

Langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara

Rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya

Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat matamorgana

Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

~ W.S Rendra ~
Kumpulan Puisi ” Perjalanan Bu Aminah “, Yayasan Obor Indonesia – 1997


Rumpun Alang-Alang

Engkaulah perempuan terkasih, yang sejenak kulupakan, sayang
Kerna dalam sepi yang jahat tumbuh alang-alang di hatiku yang malang
Di hatiku alang-alang menancapkan akar-akarnya yang gatal
Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal

Gelap dan bergoyang ia
dan ia pun berbunga dosa
Engkau tetap yang punya
tapi alang-alang tumbuh di dada

~ W.S Rendra ~

Sajak Anak Muda

Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum

Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.

Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.

Apakah kita tidak dimaksud
untuk mengerti itu semua ?
Apakah kita hanya dipersiapkan
untuk menjadi alat saja ?

inilah gambaran rata-rata
pemuda tamatan SLA,
pemuda menjelang dewasa.

Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.

Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.

Dasar keadilan di dalam pergaulan,
serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.

Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya,
menikmati masa bodoh dan santai.

Di dalam kegagapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai
tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa,
persis seperti bapak-bapak kita.

Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan
Untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti.
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa ?
Kita hanya menjadi alat birokrasi !
Dan birokrasi menjadi berlebihan
tanpa kegunaan -
menjadi benalu di dahan.

Gelap. Pandanganku gelap.
Pendidikan tidak memberi pencerahan.
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan
Gelap. Keluh kesahku gelap.
Orang yang hidup di dalam pengangguran.

Apakah yang terjadi di sekitarku ini ?
Karena tidak bisa kita tafsirkan,
lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.

Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini ?
Apakah ini ? Apakah ini ?
Ah, di dalam kemabukan,
wajah berdarah
akan terlihat sebagai bulan.

Mengapa harus kita terima hidup begini ?
Seseorang berhak diberi ijazah dokter,
dianggap sebagai orang terpelajar,
tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
Dan bila ada ada tirani merajalela,
ia diam tidak bicara,
kerjanya cuma menyuntik saja.

Bagaimana ? Apakah kita akan terus diam saja.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
dianggap sebagi bendera-bendera upacara,
sementara hukum dikhianati berulang kali.

Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
dianggap bunga plastik,
sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.

Kita berada di dalam pusaran tatawarna
yang ajaib dan tidak terbaca.
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan.
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan.
Dan bila luput,
kita memukul dan mencakar
ke arah udara

Kita adalah angkatan gagap.
Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar.
Daya hidup telah diganti oleh nafsu.
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.
Kita adalah angkatan yang berbahaya.

Pejambon, Jakarta, 23 Juni 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi

Sajak Bulan Mei 1998 Di Indonesia

 Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja.
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan.
Amarah merajalela tanpa alamat.
Ketakutan muncul dari sampah kehidupan.
Pikiran kusut membentuk simpul-simpul sejarah.
O, jaman edan !
O, malam kelam pikiran insan !
Koyak-moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan.
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan.
O, tatawarna fatamorgana kekuasaan !
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja !
Dari sejak jaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan
bahwa hukum harus lebih tinggi
dari keinginan para politisi, raja-raja, dan tentara.
O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan !
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur !
Berhentilah mencari ratu adil !
Ratu adil itu tidak ada. Ratu adil itu tipu daya !
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil.
Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara.
Bau anyir darah yag kini memenuhi udara
menjadi saksi yang akan berkata :
Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat,
apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa,
apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan,
maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa,
lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya.
Wahai, penguasa dunia yang fana !
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta !
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati ?
Apakah masih akan menipu diri sendiri ?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
berarti pintu untuk pikiran-pikiran gelap
yang akan muncul dari sudut-sudut gelap
telah kamu bukakan !
Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi
Airmata mengalir dari sajakku ini.

Catatan :
Sajak ini dibuat di Jakarta pada 17 Mei 1998 dan dibacakan Rendra di DPR
(Kemarin Bengkel Teater mengirimkan dua sajak ke Jawa Pos)
Copyright © 2013 Kumpulan Puisi - All Rights Reserved

Sajak Bulan Purnama

Bulan terbit dari lautan.
Rambutnya yang tergerai ia kibaskan.
Dan menjelang malam,
wajahnya yang bundar,
menyinari gubug-gubug kaum gelandangan
kota Jakarta.

Langit sangat cerah.
Para pencuri bermain gitar.
dan kaum pelacur naik penghasilannya.
Malam yang permai
anugerah bagi sopir taksi.
Pertanda nasib baik
bagi tukang kopi di kaki lima.

Bulan purnama duduk di sanggul babu.
Dan cahayanya yang kemilau
membuat tuannya gemetaran.

“kemari, kamu !” kata tuannya
“Tidak, tuan, aku takut nyonya !”
Karena sudah penasaran,
oleh cahaya rembulan,
maka tuannya bertindak masuk dapur
dan langsung menerkamnya

Bulan purnama raya masuk ke perut babu.
Lalu naik ke ubun-ubun
menjadi mimpi yang gemilang.
Menjelang pukul dua,
rembulan turun di jalan raya,
dengan rok satin putih,
dan parfum yang tajam baunya.
Ia disambar petugas keamanan,
lalu disuguhkan pada tamu negara
yang haus akan hiburan.

Yogya, 22 Oktober 1976
Potret Pembangunan dalam Puisi


BLOG: "INILAH KARYAKU": Mengenang Si Burung Merak, Sang Maestro W.S Rendra...: Slamet Priyadi : “inilah Karyaku”- Sabtu, 28 Desember 2013 15:52 WIB Si Burung Merak, W.S Rendra W.S Rendra yang nama kepan...