Senin, 15 April 2013

Inggris Gagal Pertahankan Lukisan Pablo Picasso "Child With A Dove"

Sebuah lukisan karya Pablo Picasso yang dilukis saat usia 19 tahun dan berada di Inggris sejak 1924, “Child With A Dove” akan dipindahkan ke Qatar setelah upaya untuk membeli kembali dari kolektor pribadi gagal. 

BBC Indonesia – Sabtu, 13 April 2013 – 13:03 WIB - Lukisan dengan judul Child With A Dove terjual tahun lalu dengan harga dilaporkan mencapai £50 juta tetapi pemerintah melakukan larangan ekspor untuk karya tersebut dengan harapan ada pembeli Inggris yang mau membelinya. Dan saat larangan ekspor tersebut berakhir Desember lalu, tidak ada institusi yang mampu mengumpulkan dana untuk membeli lukisan tersebut. Lord Inglewood, ketua Komite Seni Inggris menyebut kehilangan lukisan tersebut sebagai ''sebuah hal yang sangat disayangkan.''

'Qatar'

Dia mengatakan: ''Child With A Dove" adalah sebuah lukisan ikonis Picasso, dan memiliki sejarah yang panjang dalam koleksi seni Inggris. Itu merupakan salah satu karya awal Picasso, dan menandakan momen transisi dalam karirnya, yang membawanya ke Periode Biru.
"Sangat disayangkan bahwa institusi di Inggris tidak bisa mengumpulkan dana yang dibutuhkan untuk tetap menahan karya seni yang cantik ini di dalam negeri. Tetapi ini adalah alasan mengapa larangan ekspor sangat penting untuk melindungi warisan kebudayaan bangsa.'' Lord Inglewood menambahkan: ''Dalam kasus Picasso, uang jelas sebagai masalahnya.''
Menurut koran Prancis Le Figaro, Child With A Dove dibeli seorang kolektor asal Qatar. Negara ini sekarang menjadi salah satu pemain yang serius di dunia seni dan dikabarkan juga telah membeli The card Players karya Cezane seharga £162 juta dan £47 juta untuk karya Rothko, White Center (Yellow, Pink and Lavender on Rose).
Philip Hoffman, kepala eksekutif yayasan Fine Art Fund, kepada Independent mengatakan:"Qatar adalah salah satu dari tiga pembeli terbesar di dunia saat ini, dan mereka memiliki sumber daya yang sangat besar.''
"Qatar membuat komitmen yang besar untuk membuat negara Arab tersebut menjadi penghubung dalam pasar seni di Timur Tengah. Mereka membangun museum dengan koleksi seni yang luar biasa.''

Hemat estetika

Child With A Dove terjual di balai lelang Christies atas nama keluarga Aberconway di Wales, yang mewarisi lukisan ini di tahun 1947 menyusul kematian Samuel Courtauld. Lukisan ini pertama kali sampai di Inggris tahun 1924 saat dibawa oleh Nyonya R A Workman. Menjadi salah satu karya pertama dan terpenting Picasso yang masuk dalam koleksi Inggris, yang menandakan transisi seniman tersebut dalam perayaan Periode Biru, saat dia hijrah dari Impresionistis ke gaya yang lebih hemat estetika, menciptakan karya suram dengan melukis dalam nuansa biru dan biru-hijau. Tahun 1970-an, lukisan ini dipinjamkan ke Galeri Nasional di London dan tahun lalu dipamerkan dalam eksebisi Becoming Picasso: Paris 1901 di Galeri Courtauld. 
Eksebisi itu berakhir 27 Mei tahun lalu dan lukisan tersebut akan kembali ke balai lelang Christie sebelum akhirnya meninggalkan Inggris.
Sumber:
BBC Indonesia
Posted:
Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan - Bogor   

"KITA SEMUA WAYANG": Inggris Gagal Pertahankan Lukisan Pablo Picasso "...: Sebuah lukisan karya Pablo Picasso yang dilukis saat usia 19 tahun dan berada di Inggris sejak 1924, “Child With A Dove” akan dipi...

Jumat, 12 April 2013

Anggaran Pendidikan Habis untuk Menggaji Gur

Anggaran Pendidikan Habis untuk Menggaji Guru
Ilustrasi sertivikasi guru (pakguru-ahmadur.co.cc )

Tribunnews.com - Jumat, 15 Maret 2013 15:17 WIB

Laporan Wartawan kotalive.com Gopis Simatupang

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Berdasarkan laporan terbaru Education Public Expenditure Review dari Bank Dunia (World Bank) di bawah pola pembiayaan pendidikan di Indonesia saat ini, porsi anggaran yang cukup besar dialokasikan untuk membayar gaji guru serta membiayai program sertifikasi guru. Hal itu dikatakan Mae Chu Chang, Spesialis Pendidikan Bank Dunia untuk Indonesia di Universitas Paramadina, Jakarta, Jumat(15/3/2013).

Mae Chu Chang adalah salah satu narasumber dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Institute for Education Reform (IER) Universitas Paramadina, kemarin, bekerjasama dengan Bank Dunia bertema "Kemana Arah Politik Pendidikan Nasional dengan Anggaran yang Terus Meningkat?"

Selain Mae Chu Chang, narasumber lain adalah Pedro Cerdan-Infantes, ekonom dari Bank Dunia; Satrio Soemantri Brodjonegoro, Guru Besar ITB dan mantan Dirjen Pendidikan Tinggi; serta Mohammad Abduhzen, Direktur Eksekutif IER Paramadina.

Sebagaimana diketahui, sejak reformasi terjadi, konstitusi mewajibkan negara untuk memprioritaskan anggaran pendidikan minimal 20 persen dari APBN dan APBD. Sejak ketentuan itu diimplementasikan pada 2009, kata Mae, di atas kertas anggaran pendidikan secara nasional dan perdaerah melonjak tajam. Namun, dibandingkan sebelumnya, besarnya anggaran itu sebenarnya tak jauh berbeda persentasenya. Sebagai ilustrasi, jelas Mae, anggaran pendidikan 2013 berjumlah Rp 331,8 triliun (20,01) persen termasuk pendidikan Kementerian Agama dan 18 kementerian atau lembaga lain, yang jika dikeluarkan bersama gaji guru, jadi hanya 9,8 persen dari APBN.

Mae mengatakan, anggaran yang dibutuhkan untuk membayar gaji guru meningkat tajam seiring dengan meningkatnya jumlah guru secara keseluruhan, dan jumlah ini terus meningkat meskipun Indonesia merupakan salah satu negara dengan rasio siswa-guru paling rendah di dunia. Meskipun program sertifikasi guru telah membantu memperbaiki kesejahteraan guru, bilang Mae, belum terlihat adanya bukti bahwa program sertifikasi ini lantas diikuti dengan semakin membaiknya performa siswa.

Sementara itu, lanjut Mae, menurut standar internasional, alokasi anggaran untuk pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan menengah ke atas dan perguruan tinggi di Indonesia masih tergolong rendah. Karena itu, kata Mae, pola pembiayaan yang berlaku saat ini tampaknya belum membawa dampak signifikan pada perbaikan kualitas pendidikan serta akses, pasca wajib belajar 9 tahun bagi siswa miskin.

"Laporan Bank Dunia itu merekomendasikan adanya realokasi sumber daya ke tingkat-tingkat pendidikan yang lebih tinggi serta program beasiswa siswa miskin, peningkatan dukungan dari pemerintah daerah ke sekolah-sekolah, serta perbaikan perencanaan anggaran, transparansi, dan akuntabilitas," tandasnya.
Mohammad Abduhzen menyatakan hal senada. Menurutnya, hasil akhir pendidikan seharusnya adalah tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

"Pendidikan harus berdampak pada kualitas. Krisis moneter, ekonomi, politik, sumbernya bukan cuma ekonomi dan politik, tetapi juga krisis SDM," bilang Abduhzen di tempat yang sama.
Karena kualitas SDM yang rendah pula, kata Abduhzen, Indonesia susah pulih dari krisis. 

"Berbeda dengan Malaysia, Thailand, dan Filipina. Menteri Pendidikan seharusnya punya ideologi pendidikan, dia tahu apa yang harus dilakukan. Begitu jadi menteri dia tidak studi lagi tapi langsung melakukan," tuturnya.

Ini Sejumlah Keanehan di Dalam Draf Kurikulum Pendidikan 2013


Ini Sejumlah Keanehan di Dalam Draf Kurikulum Pendidikan 2013 
TRIBUNNEWS.COM - Minggu, 7 April 2013 - Aliansi Revolusi Pendidikan yang terdiri dari beberapa forum seperti Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), serta  Forum Guru Independen Indonesia (FGII) menyatakan penolakan atas Kurikulum 2013 yang diajukan Kementerian Pendidikan.



Aliansi ini menolak susunan draft Kurikulum 2013 karena dianggap tidak mengerti konteks Pendidikan sebagai alat untuk menciptakan manusia-manusia kreatif.

Retno Litsyarti, perwakilan dari  FSGI, menilai draft ini sudah melenceng dari keberadaan dunia  Pendidikan yang seharusnya mendidik murid. Dengan UU ini Pendidikan hanya bermodalkan kepada buku teks belaka.
Menurutnya ada beberapa hal yang dapat mereduksi kreativitas seperti adanya pengkajian teori matematika berdasarkan ketetapan bukan berdasarkan logika serta penerapan ilmu fisika yang menggunakan dalil - dalil agama di indonesia.

"Yang aneh adalah matematika berdasarkan ketetapan bukan logika, selain itu ilmu fisika berdasarkan dali-dalil agama, bagaimana mau mengkaji fenomena jika mengacu kepada agama? siapa yang bisa melawan dalil agama," katanya dengan nada bertanya di kantor KontraS, di Jakarta, (07/04/2013).

Ia juga menilai ada beberapa hal yang aneh seperti penghapusan beberapa mata pelajaran yang dihapuskan pemerintah, padahal pelajaran tersebut berguna untuk memancing kreativitas dan meningkatkan kualitas murid.

"Dalam draft ini tidak jelas mau dibawa kemana karena ada penghapusan beberapa mata pelajaran seperti bahasa inggris untuk SD, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi di jenjang SMP dan SMA, padahal mata pelajaran ini sangat berguna untuk tingkatkan kreatifitas dan kualitas murid," tambahnya.


Tribunnews.com - Minggu, 7 April 2013 16:25 WIB (www.madisonpubliclibrary.org)






Minggu, 24 Maret 2013

22 Tahun Berkarya, Pernah Gadaikan Nyawa


Totalitas Teater Yupa Universitas Mulawarman
Metropolis | Minggu, 24 Maret 2013 | 18:52:02 WIB





Teater Yupa terus berinovasi dalam karya demi eksistensi. Bagi mereka totalitas itu nomor satu.
TIRAI HITAM menutupi seluruh ruangan, membuat suasanya serba kelam. Di panggung yang bermandikan cahaya hanya para aktor dan aktris. Di sana mereka sibuk berakting dengan penuh totalitas. Tujuannya satu, demi kepuasan penonton, para penikmat seni.

ITULAH gambaran setiap kali para pemain di Teater Yupa melakukan pementasan. Teater Yupa adalah sebuah unit kegiatan mahasiswa di Universitas Mulawarman (Unmul). Anggotanya dari para mahasiswa pecinta seni di sana. Cukup lama teater ini terbentuk, 21 Mei 2013 nanti teater ini genap berumur 22 tahun. Mereka membuktikan eksistensinya dengan terus berkarya.

Dari pribadi-pribadi yang kreatif, karya tersebut telah mendapat prestasi gemilang. Ketua Teater Yupa, Kaharuddin, mengatakan, bukan hal mudah mendapatkan semua itu. Di balik semua keberhasilan, kata Kahar, diperlukan sebuah perngorbanan dan perjuangan dari setiap anggota teater. Dia menceritakan, sebelum resmi menjadi anggota teater, seorang calon anggota harus “dilaser” terlebih dulu.

“Dilaser ini kepanjangan dari Pendidikan dan Latihan Seni Teater. Jadi anggota baru akan kami berikan pelatihan,” kata Kahar kepada Kaltim Post, sebelum latihan harian di gedung Student Center Unmul, Jumat (22/3). Uniknya setelah mengikuti pendidikan ini, masing-masing angkatan baru akan mendapat semacam nama julukan. Dikatakan Kahar, nama julukan ini dipakai untuk menjalin kedekatan emosional sesama anggota. “Kami menyebutnya nama suci, ada yang diberi nama Bhont, Utuh, Bejur, Sutil, Jinsit, Tukit, Jamu, Sepal, dan lain-lain.

Panggilan itu bukan ejekan, justru malah semacam panggilan kesayangan,” ujarnya. Mahasiswa angkatan 2007 jurusan Ilmu Komputer ini mengatakan minat mahasiswa tentang seni teater ini sangat baik. Hal ini ditunjukan dari banyaknya mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan pelatihan dasar teater setiap tahunnya. Dia menjelaskan, saat ini Teater Yupa memiliki kurang lebih 60 anggota aktif.

Mereka semua berasal dari mahasiswa Unmul di berbagai fakultas yang ada di sana. Tak hanya berstatus mahasiswa, dia menceritakan para alumnus juga masih banyak yang bergabung di dalam teater ini. Mereka menyebut para alumnus ini Anggota Luar Biasa (ALB). Beragam kisah suka dan duka mewarnai perjalanan mereka di pentas. Putri Ayu, salah satu anggota Teater Yupa mengatakan, dia bersama lima kawannya yang lain pernah ketinggalan pesawat usai melakukan pertunjukan di Festival Teater Mahasiswa Nasional (Festamasio) ke VI di Palembang.

Dia menceritakan, awalnya rombongan tak bisa pergi ke bandara dengan segera karena tak ada kendaraan yang mengantar mereka. “Kami berangkat pukul 07.00, penerbangan dari Palembang ke Balikpapan. Namun sampai pukul 07.30 kami belum juga mendapatkan angkutan,” kata Putri. Lalu dia menceritakan, akhirnya seorang kenalan dari tuan rumah penyelenggara acara bersedia menolong mereka. Putri dan rombongan diantar memakai dua buah mobil yang berbeda.

Sayang, hanya rombongan pertama berisi delapan orang anggota Teater Yupa saja yang berhasil duduk tenang dalam kabin pesawat. Sisanya terpaksa gigit jari karena sang burung besi telah lepas landas meninggalkan dia dan teman-temannya. “Parahnya, selain uang saku kami mulai habis. Perlengkapan kami di koper terbawa oleh teman di pesawat. Yang kami bawa hanya besi-besi properti pertunjukan dan baju yang melekat di badan,” kata perempuan yang digelari nama Yumba ini. Beruntung mereka segera ditolong dengan kawan-kawan dari teater lain.

Putri cs akhirnya diajak menempuh perjalanan darat dan menyeberangi Selat Sunda untuk menuju Jakarta. Pertolongan pun mereka dapatkan di Ibukota Negara ini. “Ada kakak-kakak ALB yang membantu kita selama di sana, uang saku seadanya tadi ditambah bantuan kakak-kakak ALB kami belikan tiket pulang untuk ke Balikpapan,” ujarnya. Kisah perjuangan mereka pun tak sampai disitu, demi totalitas berakting, nyawa pun mereka pertaruhkan.

Kembali Kahar bercerita, pernah saat salah satu pementasan, senior mereka hampir kehabisan napas karena dalam perannya mengharuskan lehernya diikat dengan seutas tali. “Sebenarnya kami punya standardisasi keamanan sendiri. Namun, mungkin karena terlalu banyak berimprovisasi senior kami hampir kehabisan napas,” kata Kahar.

Kahar dan anggota lainnya mengatakan, seluruh jerih payah pengorbanan mereka akan terbayas lunas saat melihat raut wajah puas para penonton. “Alhamdulilah minat penonton selalu bagus. Belum pernah pertunjukan kami ditonton satu, dua orang saja. Kursi penonton selalu penuh,” ucapnya. Sebagian karya yang mereka hasilkan adalah Orkes Semut, Preman Mawar, dan Kontelasi Kamar Bingung.

Tak hanya di seputar Kaltim, mereka juga sering melakukan pementasan-pementasan di panggung beskala nasional seperti Festamasio dan Festival Monolog Mahasiswa Nasional atau yang lebih dikenal dengan STIGMA. Prestasi yang diraih pun tak sedikit. Para anggota teater ini pernah mendapat penghargaan sebagai aktor terbaik pada ajang Festamasio 3 di Jogjakarta tahun 2005. Selain itu menjadi penyaji, pemain dan penata lampu terbaik I saat STIGMA ke I di Makassar, dan masih banyak lagi.

Di balik semua ini, para anggota teater ini berharap pemerintah bisa sedikit memberi perhatian pada setiap kegiatan seni. “Kami ingin agar pemerintah membangun sebuah gedung khusus untuk kesenian dan pertunjukan teater. Saat ini, Indonesia sekalipun belum punya gedung pertunjukan yang layak. Makanya kami ingin pemerintah mau membangunkannya agar seluruh kegiatan kesenian bisa dilakukan tanpa hambatan,” harapnya.(*/roe/tom)






Joko Widodo Siap Keluarkan Pergub Berbasis Seni Budaya

WIB

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo
JAKARTA, (PRLM).- Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo berjanji akan bergerak cepat dan responsif untuk segera mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) yang pro industri berbasis seni budaya. Ia berjanji paling lambat 2 minggu kedepan akan mengeluarkan Pergub tersebut.
Anggota Komtap Kadin industri berbasis budaya, komposer dan pemilik Lembaga Pendidikan Musik Farabi, Dwiki Dharmawan menyampaikan harapan agar pada Pergub tersebut mengatur hotel-hotel berbintang di DKI Jakarta menampilkan seni musik dan tarian tradisional sehingga lebih menghidupkan dan mengangkat kembali kehidupan seniman musik tradisional dimulai dari wilayah DKI Jakarta sebagai pilot project. Sedangkan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Putri K Wardhani mengatakan, industri berbasis budaya seperti jamu dan minuman tradisional, kerajinan tangan, kain tradisional, makanan dan kuliner khas daerah, cara pengobatan tradisional, serta seni musik dan tari khas daerah, memiliki potensi untuk bersaing secara ekonomi, dengan melibatkan banyak pelaku usaha. “Sayang ini industri berbasis budaya belum terlalu dianggap dan digarap serius, baik oleh pemerintah dan swasta sehingga, para wisatawan belum maksimal menikmati kekayaan budaya Tanah Air,” ujar Putri.
Kadin Bidang Industri berbasis budaya mengharap Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dapat memberikan dukungan dengan membuat suatu ketetapan, yang mengharuskan para pelaku usaha pariwisata seperti hotel, mal, dan rumah makan, mengadopsi produk industri berbasis budaya sebagai bentuk keberpihakan pemerintah yang akan menjadi titik tolak meningkatnya kecintaan terhadap produk dalam negeri, dan akhirnya mengacu pada pendapatan negara dari sektorindustri berbasis budaya.(Mun/A-147)***
Komentar Denmas Priyadi Tentang Industri Berbasis Budaya

Minggu, 24/03/2013 - 15:57 WIB
AryoJenar Blog: "INI KARYAKU"
Slamet Priyadi Komentator
INDUSTRI berbasis budaya seperti jamu dan minuman tradisional, kerajinan tangan, kain tradisional, makanan dan kuliner khas daerah, cara pengobatan tradisional, serta seni musik dan tari khas daerah, sangat memiliki banyak potensi untuk bersaing secara ekonomi yang tentunya dengan melibatkan banyak para pelaku usaha.

Saya sangat mendukung dan setuju sekali, dan sudah seyogyanya Gubernur Jokowi mengindors dan bergerak cepat, responsif untuk segera mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) yang pro industri berbasis seni budaya. Hal ini demi perkembangan dan kemajuan seni budaya tradisi itu sendiri.

VIVA JOKOWI !

Sabtu, 23 Maret 2013

Rencana Ahok Hapus Bantuan Pendidikan Ditentang   - Yahoo! News Indonesia


TEMPO.CO, Jakarta - Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mencabut Bantuan Operasional Pendidikan mendapat tentangan keras dari Koalisi Pendidikan. Mereka menganggap hal tersebut bertentangan dengan konstitusi. "Kami tidak setuju dengan rencana tersebut. Kami marah sekali ketika mendengarnya. Ini bertentangan dengan UUD 1945," kata anggota Koalisi Pendidikan, Lody Paat, kepada Tempo, Jumat, 22 Maret 2013.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyatakan sedang menggodok rencana penghapusan kebijakan sekolah gratis bagi sekolah negeri. Sederhananya, sekolah diperbolehkan menarik iuran dari para siswa.

"Kita mau kebut pada tahun ajaran baru. Kita sedang mempertimbangkan apakah sekolah harus bayar. Nanti siswa yang sekolahnya di sekolah negeri harus bayar. Yang tidak mampu kasih KJP (Kartu Jakarta Pintar) untuk bayar sekolah. Baru adil, kan," kata Basuki.

Menurut Lody, rencana pemerintah itu bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 karena membatasi hak atas pendidikan yang merupakan hak asasi. Dalam konstitusi, pendidikan merupakan hak atas seluruh warga, baik miskin maupun kaya.

Jadi, kata Lody, apabila pemerintah membatasi sekolah gratis hanya pada mereka yang tak mampu ataupun sekolah swasta dengan cara menghapus BOP dan menggantikannya dengan KJP, itu melanggar UUD. Seharusnya, baik kaya maupun miskin mendapatkan hak pendidikan yang sama. "Kalaupun membayar, itu yang membayar pemerintah, bukan siswa. Sekolah gratis itu sudah benar. Menghapuskannya adalah sebuah kemunduran," ujar Lody.

Dia menambahkan, rencana mengganti BOP dengan KJP juga bukan rencana yang logis. Alasannya, itu berarti salah satu jenis pendanaan sekolah, yaitu pendanaan operasional, hilang. "Pendanaan sekolah itu terbagi menjadi tiga, yaitu pendanaan investasi, operasional, dan personal. KJP itu pendanaan personal karena untuk memenuhi kebutuhan pribadi siswa, seperti buku dan seragam. BOP itu operasional, masak mau dihapus."

Selain itu, mengganti BOP dengan KJP juga dinilai masih rentan penyelewengan. Pasalnya, pengawasan terhadap KJP belum berjalan dengan baik. Apabila KJP disalahgunakan, kebutuhan personal maupun operasional tak akan terpenuhi.

Saat ditanya apakah KJP sebaiknya dihapus agar pendanaan sepenuhnya di tingkat operasional, Lody mengatakan tidak. Kebutuhan personal siswa tetap perlu diperhatikan, namun bukan dengan cara menghapuskan kebutuhan operasional. "Yang benar, keduanya harus saling melengkapi."

Secara terpisah, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia Retno Listyarti mengatakan, jika rencana penghapusan BOP ini dilakukan, Jokowi dan Ahok melanggar kampanyenya sendiri. Dalam kampanye, mereka berjanji akan menyediakan pendidikan gratis bagi warga Jakarta.

ISTMAN MP

Jumat, 15 Maret 2013

Minim, Pencatatan dan Pendokumentasian Seni Budaya Tradisional | Pikiran Rakyat Online


RETNO HY/"PRLM"
RETNO HY/"PRLM"/PAKAR Etnomusikologi Endo Suwanda (kiri) didampingi Apep Hudaya (kedua kiri) Lili Suparli (kedua kanan) dan Toto Amsar (kanan) memaparkan tentang minimnya kebiasaan pencatatan serta pendokumentasian dan publikasi ilmiah hasil penelitian seni budaya tradisi di Indonesia.*
BANDUNG, (PRLM).- Minim pencatatan dan dokumentasi penelitian bukti ilmiah seni budaya tradisional sulit dilacak. Sejumlah peneliti terpaksa harus melakukan penelitian ulang dan mencari catatan serta dokumentasi hingga ke luar negeri.

Demikian diungkapkan pakar Etnomusikologi Endo Suwanda, dalam paparannya pada diskusi kecil jelang pegelaran wayang golek Sapeuting Jeput dengan dalang Apep Hudaya bertempat di Selasar Teater TerbukaTaman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House), Rabu (13/3/13).

“Kebiasaan buruk tidak dicatat, didokumentasikan serta dipublikasikan hasil peneliti seni budaya tradisional di tanah air yang dilakukan mulai dari peneliti pasca sarjana hingga profesor sekalipun, mengakibatkan bukti-bukti ilmiah seni budaya tradisional sejumlah daerah di Indonesia sulit dilacak,” ujar Endo.

Dalam paparannya, doktor seni lulusan Washington University USA tersebut mengatakan minimnya kebiasaan pencatatan serta pendokumentasian dan publikasi hasil penelitian seni budaya tradisi di Indonesia, khususnya budaya tak benda, seperti bahasa, seni tradisi, tari, ritual, dan seni arsitektur daerah. Akibatnya, dokumentasi tentang keragaman budaya Indonesia saat ini menjadi sangat buruk.

Parahnya lagi, menurut Endo, saat sejumlah mahasiswa akan melakukan seni budaya tradisional maka riset dan penelitian harus mengeluarkan biaya mahal karena bahan-bahan berada di luar negeri. “Karenanya tidak sedikit mereka yang belajar dan menuntut ilmu langsung di luar negeri,” ujar Endo Suwanda.

Dikatakan Endo, seringkali pemerintah berteriak lantang kalau pelestarian seni budaya tradisi itu penting, dan masyarakat selalu tersinggung kalau ada yang merendahkan seni budaya tradisi kita, dan kita selalu katakan seni budaya kita tak ternilai. 

“Tapi, saat ditanyakan berapa jumlah kesenian dan kebudayaan tradisi yang ada di daerah sendiri, berapa yang sudah punah, akan punah dan masih ada, banyak yang tidak tahu.Padahal, data-data soal itu sangatlah penting," ujar Endo. (A-87/A-108)***

Minim, Pencatatan dan Pendokumentasian Seni Budaya Tradisional | Pikiran Rakyat Online