Kamis, 03 Mei 2012

ABDUL SYUKUR & RETNO MARUTI By Joko Novarianto, S.Sn


 SLAMET ABDUL SYUKUR
(Komponis dan pengajar musik)

SLAMET ABDUL SYUKUR
KAMIS, 3 MEI 2012 - DENMAS PRIYADI BLOG - Dilahirkan di Surabaya 1935, diusia yang ke 74 tahun ini beliau masih tetap eksis menjadi tenaga pengajar dan juga komponis. Karya-karyanya ada yang sangat kompleks (multimedia, elektronik gamelan dan lainnya) atau sebaliknya ada yang sangat sederhana sekali ( mulut, ataupun kentongan).

Belajar musik  tidak otomatis untuk mempersipakan diri menjadi pemusik , sama juga halnya dengan orang belajar matematika , tidak semua bertujuan menjadi ahli matematika. Tapi bagaimana mereka dapat mendisiplinkan diri sampai pada keperluan sehari-hari mereka, misalnya babagaimana mereka dapat mengatur atau me”manage” waktu untuk belajar, istirahat, makan, tidur dan lain sebagainya.
Begitu pula dalam memperlajari musik, disini tidak dituntut untuk kesenangan belaka, tapi juga menjadikan anak sehat jasmani dan cerdas begitu pendapat beliau. Sebagai contoh Anak–anak yang belajar bernyanyi secara berkelompok (koor/paduan suara) mereka ditutut untuk fokus juga konsen pada lagu yang mereka bawakan, tapi yang lebih penting adalah bagaimana mereka dapat bernyanyi dengan tidak menonjolkan dirinya sendiri . Apalagi pada paduan suara polifoni , masing-masing suara punya jalurnya sendiri dan sekaligus saling melengkapi. Semua harus bisa mendengarkan suara penyanyi satu dengan yang lainnya inilah yang dinamakan kebersamaan. Ringkasnya pendidikan musik seperti itu yang membuat kita sehat, cerdas dan punya rasa kebersamaan.Tujuannya  sama dengan apa yang menjadi cita-cita tokoh pendiri/ pendahulu bangsa Indonesia yaitu: menjadikan manusia seutuhnya.
Sekarang beliau juga mengajar program pasca sarjana di STSI Solo, selain mengajar di sekolah privat di Surabaya juga di Jakarta. Ini tidak lantas hanya perguruan tinggi yang mampu menghasilkan seniman bermutu. Legitimasi tidak pernah dapat mereduksi sesuatu yang hidup. Sebagai pengasuh juga pendidik sudah semestinya kita sebisa mungkin membantu mereka menemukan dirinya sendiri, dan bukan mendiktenya.
Beberapa permasalahan yang dikumpulkan oleh Slamet Abdul Sjukur, diantaranya adalah:
-       " Latihan membuat musik sependek mungkin ( 12 detik) dan sebagus mungkin". Ini masalah efisiensi: "bagaimana seniman dapat memikat hati dalam waktu yang sangat terbatas?"
-  "Latihan membuat musik sepanjang mungkin ( 20 menit) tanpa ada sesaatpun yang membosankan. Atau kalau bisa, seniman malah membuat pendengarnya sampai jatuh dalam “trance”. Seberapa kuat kemampuan komponis menyampaikan gagasan?"
-          Belajar dari benda sumber bunyi, dan bukan dari gagasan. Tujuannya adalah untuk menghormati potensi bunyi yang sudah ada namun tersembunyi atau kurang di tanggapiSemua itu mungkin sudah dialami para komponis, sekalipun mungkin tidak disadari. Oleh karena itu permasalahannya secara khusus dengan disertai cara untuk mengalaminya sendiri, Kecerdasan sejati berbeda dengan kecerdasan yang hanya mengandalkan logika, menangkap persamaan tersamar antara yang berguna dan yang menyenangkan.(Joko Novarianto, S.Sn)


RETNO MARUTI
(Penari dan penata dalam tari tradisi Jawa Klasik)

RETNO MARUTI
      Dilahirkan di Surakarta, 1947. Pembahasan dalam wawancara dengan beliau adalah tentang Jarak antara yang tradisional dan yang modern. Telah banyak perubahan dari sisi pelestarian tari tradisi dalam pengalamannya. Di tahun 1970-an disaat beliau di TIM dan bapak Ali sadikin sebagai gubernur DKI Jakarta, banyak sekali keleluasan dalam berkarya baik dukungan dari pemerintah secara moril dan materil. Dan itu juga tantangan para seniman khususnya penari pada saat itu yang dapat tampil menjadi suatu kebanggaan adalah grup yang mempunyai kapasitas dan kapabilitas yang baik. Jadi setiap grup mendapat tantangan untuk menjadi yang terbaik dan tetap ingin selalu maju dalam berkesenian.

        Sejak tahun 1980-an kondisi ini mulai surut, khususnya kerinduannya untuk bisa tampil dan eksis dalam seni tradisinya. Juga pada era ini sampai tahun 1990-an , situasi semakin berubah. Mereka tidak banyak punya pilihan untuk tampil sekarang. Ada Graha Bhakti Budaya, tapi seniman muda tidak berani tampil disana karena penontonnya banyak. Sponsor harus berani mendukung. Faktor kesulitan ini dialami banyak seniman. Dan tergantung dengan bagaimana pintar-pintarnya seniman tadi dalam mengelola sebuah event pementasan. Menurut beliau pada tahun 1990-an serasa banyak sekali ataupun mungkin hampir semua grup-grup yang tergolong dalam pementasan ini vacuum dan sedikit sekali yang masih ingin tampil. Retno Maruti-pun memulai pementasan karyanya di tahun 1997, dengan dorongan dari banyak pihak. 
        Menurutnya karya-karya  yang dibuatnya harus berbobot, dengan garapan yang serius- bukan hanya sekerdar hiburan. Jadi yang ditampilkan harus pure art ( seni murni) namun juga tidak meninggalkan sisi-sisi yang dipertimbangakan karena ini adalah seni tradisi yang tidak bisa ditampilkan sembarangan. Tujuannya adalah kepuasan semua pihak. Seni seharusnya bermanfaat, untuk yang membuatnya, yang melaksanakan dan yang menontonnya. Bila seni tidak bermafaat, itu pemborosan- hanya membuang-buang uang.
Menurutya saat ini ada beberapa perubahan yang terjadi dalam berkembangnya proses berkesenian :
-             Pertama: Perubahan dalam sisi waktu, misalnya dahulu kita sering lihat pementasan dengan durasi waktu yang panjang (3 sampai 4 jam) kini bisa menjadi 1-2 jam saja. Tapi tidak berarti artinya dihilangkan- bukan main potong saja ada kaidah-kaidah sendiri
-          Kedua: Perubahan dalam kostumnya, kostum menjadi lebih sederhana, tapi tidak merubah nuansa yang tradisional dengan kaca mata modern. Termasuk segi make-up, panggung dan lainnya.
-                   Ketiga: Perubahan pada sistem manajemen, dulu mereka hanya berperan sebagai penari sekarang mereka berperan sebagai penyelenggara. Tapi memang konsekuensi dari perubahan ini adalah pembagian energi. Idealnya ada staf produksi tersendiri, dan dan dibidangnya.
         Cara berfikirnya sekarang harus dapat membuka diri; tarian nya tetap mengikuti zaman asal tetap mempertahankan estetikanya, asal kita masih punya jati diri, ungkapnya. Dalam era globalisasi , semua harus da bisa tumbuh. Kalau tradisi mau tumbuh, silahkan begitu juga yang modern. Jadi tidak perlu memperuncing jarak antara yang tradisinal dan yang modern. Intinya pembaruan itu harus positif  jangan sampai mengurangi nilai artistiknya. Jika merusak itu bukan pembaruan.(Joko Novarianto, S.Sn)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar