Kamis, 30 Agustus 2012

HULU KERIS, SENI ARCA YANG MEMPESONA By Toni Junus


Ketika seseorang menyelipkan keris pada saat berbusana tradisional, hulu keris adalah bagian dari keris yang paling pertama terlihat oleh mata. Sarung keris tidak mudah dilihat karena sebagian tertutup oleh pakaian.
Kata "hulu" berasal dari bahasa Melayu, sebutan dalam bahasa daerah yang ada di Indonesia antara lain: Ukiran, Jejeran atau Deder (bhs. Jawa); Gagang, Tongkol (Cirebon, Banten); Landhian atau Denangan (Madura) dan Danganan (Bali dan Lombok).

Seni hulu keris dapat dibagi dalam 2 (dua) pemahaman, yaitu nilai wujud fisik (tangible) dan abstraksinya (intangible). Wujud dari hulu keris adalah merupakan suatu benda yang diciptakan dengan sentuhan-sentuhan seni, bahannya terbuat dari kayu pilihan, tanduk rusa, tulang, gading, fosil dan ada hulu keris yang dibungkus oleh emas atau perak. Di Jawa (keraton Surakarta dan Yogyakarta) umumnya terbuat dari kayu yang memiliki serat lembut dan indah, seperti kayu asam (tamarindus indicus), kayu kemuning (murraya paniculata), kayu kendayaan (bauhinia malabarica), kayu Tayuman (bauhinia tomentosa), dan kayu timåhå pélét atau timåhå kendit (klenhovia hospita).

Abstraksi dari hulu keris (intangible) adalah adanya aspek-aspek yang melatar-belakangi pembuatannya. Aspek-aspek itu antara lain sisi pandang mistik (mithologi), adanya keterkaitan dengan kepercayaan, menjadi simbol status sosial, memiliki nilai kesejarahan dan muatan filosofi. Semuanya itu diekspresikan secara visual dengan gaya dan bentuk berbeda-beda antara daerah satu dengan lainnya.

”Peninggalan-peninggalan kebudayaan dalam sisi kebendaan dapat langsung kita teliti dan selidiki saat ini, karena masih ada dan masih dapat dilihat dan diraba. Tidak demikian dengan sejarah yang melatar belakanginya. Kebanyakan hanya bisa ditafsirkan oleh para ahli dari prasasti-prasasti, babad-babad, lontar serta tulisan-tulisan dari sejarahwan asing barat. Ragam hulu keris merupakan salah satu peninggalan yang bisa dipakai untuk melacak sejarah, biarpun belum ada sejarahwan yang melakukannya secara ilmiah, seperti penemuan arkeologi dan peninggalan sejarah (artefak) lainnya”. (Suhartono Rahardjo; Ragam Hulu Keris, Sejak Zaman Kerajaan, hal. XII, >Penerbit Kreasi Wacana, Januari 2003).

Keris sebagai benda ideologis menghimpun simbol-simbol pengetahuan dan kepercayaan yang sangat kompleks yang berkembang di Nusantara. Oleh karena, pembuatan keris penuh dengan simbolisme dan filosofi, bahwa bagian tangkai keris yang diselubungi hulu keris disebut peksi (tang) sebagai simbol Lingga atau kelamin pria dan bagian bilah keris yang melintang disebut gånjå (crosspiece of the blade) adalah simbol Yoni atau kelamin wanita. Dalam penyatuannya itu dianggap melahirkan suatu kekuatan dahsyat yang diinterpretasikan sebagai lahirnya roh baru (spirit baru). Oleh adanya pemahaman ini, maka muncul inspirasi yang digambarkan secara kreatif pada hulu keris dalam bentuk makhluk yang aneh sebagai penguasa yang duduk bersimpuh pada bilah keris. Penggambaran makhluk itu dibuat seolah menatap ke bawah, mengawasi sekelilingnya, menjaga keseluruhan perwujudan dari keris. Sehingga manifestasi kekuatan keris seolah terwakili oleh hulu keris tersebut.

Hulu keris jaman Singhasari disebut Yaksha, digambarkan sebagai raksasa telanjang yang duduk diatas ornamen tumpal (flora dalam bentuk segitiga), kemudian mempengaruhi karya-karya di wilayah lainnya, di wilayah Cirebon disebut Buthå Bajang.

Hulu keris jaman Singhasari disebut Yaksha, digambarkan sebagai raksasa telanjang yang duduk diatas ornamen tumpal (flora dalam bentuk segitiga), kemudian mempengaruhi karya-karya di wilayah lainnya, di wilayah Cirebon disebut Buthå Bajang.

Dari sinilah kemudian ”seni” hulu keris terus berkembang, mengalami penyesuaian dengan kepercayaan atau agama yang ada pada waktu itu. Menjadi sebuah ekspresi dari situasi pada masa itu, pertanda status sosial, dan keterlibatannya dalam tradisi berbusana adat. Sekarang kesenian hulu keris menjadi sangat menarik untuk dikoleksi secara terpisah dari kerisnya, dan menjadi kekaguman kita terhadap kesenian masa lampau. Banyak kolektor baik bangsa asing maupun dalam negeri yang telah memajangkan koleksi hulu keris pada lemari pajangnya.

Keterangan yang melatari setiap foto hulu keris yang disajikan disini bisa diikuti dengan membaca deskripsi.
Houw Lou (sebotol air) adalah simbol kepercayaan bangsa Mongolia sebagai bekal untuk hidup agar selamat dalam perantauannya hingga kembali ke tanah airnya. Houw Lou juga dipakai sebagai simbol pada kepercayaan Konghucu dipajang di kuil-kuil. Hulu keris ini diperkirakan buatan jaman Singhasari, bahannya dari batu giok merah yang diberi kombinasi emas.
Houw Lou (sebotol air) adalah simbol kepercayaan bangsa Mongolia sebagai bekal untuk hidup agar selamat dalam perantauannya hingga kembali ke tanah airnya. Houw Lou juga dipakai sebagai simbol pada kepercayaan Konghucu dipajang di kuil-kuil. Hulu keris ini diperkirakan buatan jaman Singhasari, bahannya dari batu giok merah yang diberi kombinasi emas.

Hulu keris Balu Mekabun menggambarkan manusia setengah rangda, dalam kepercayaan kuno di Bali dipahami sebagai perwujudan orang sedang ”ngeleak” (menjadi leak). Ngeleak adalah suatu ritual di Bali yang berasal dari ajaran Tantrisme dimana seseorang dapat menuju kesempurnaan jika dapat menyatukan wujudnya dengan bayangan tubuhnya sendiri. Pada beberapa catatan lain, ngeleak yang dianggap sebagai ilmu pengiwa itu, sebenarnya tak beda dengan kundalini; yaitu ilmu kesempurnaan mencapai moksa. Menurut Martin Kerner hulu keris ini menggambarkan Dewi Durga yang wajahnya tertutup kedok sebagai representasi dewa kematian. Sedangkan menurut Karsten Sejr Jensen; hulu keris ini merupakan figur yang wajahnya tertutup, karena tidak ada yang tahan setelah melihat wajahnya. Balu Mekabun dari bahasa Kawi berarti janda berwajah terselubung. Diperkirakan dipasang pada keris untuk ekskusi hukuman mati. Foto 1, hulu keris dari Bali; Foto 2. gaya Cirebon; 3. gaya Palembang.
Hulu keris Balu Mekabun menggambarkan manusia setengah rangda, dalam kepercayaan kuno di Bali dipahami sebagai perwujudan orang sedang ”ngeleak” (menjadi leak). Ngeleak adalah suatu ritual di Bali yang berasal dari ajaran Tantrisme dimana seseorang dapat menuju kesempurnaan jika dapat menyatukan wujudnya dengan bayangan tubuhnya sendiri. Pada beberapa catatan lain, ngeleak yang dianggap sebagai ilmu pengiwa itu, sebenarnya tak beda dengan kundalini; yaitu ilmu kesempurnaan mencapai moksa. Menurut Martin Kerner hulu keris ini menggambarkan Dewi Durga yang wajahnya tertutup kedok sebagai representasi dewa kematian. Sedangkan menurut Karsten Sejr Jensen; hulu keris ini merupakan figur yang wajahnya tertutup, karena tidak ada yang tahan setelah melihat wajahnya. Balu Mekabun dari bahasa Kawi berarti janda berwajah terselubung. Diperkirakan dipasang pada keris untuk ekskusi hukuman mati. Foto 1, hulu keris dari Bali; Foto 2. gaya Cirebon; 3. gaya Palembang.

http://www.keriskamardikan.com/images/stories/artikel/hulu-keris/New%20Picture%20%283%29.jpg

Hulu keris Jawa Demam dari Cirebon, menggambarkan makhluk berkepala burung yang sedang demam. Menurut dongeng rakyat Melayu mengisahkan, seorang raja memesan hulu keris kepada pengrajinnya. Hingga larut malam pengrajin itu tidak mendapat inspirasi, ia merasa kedinginan lalu menutup tubuhnya dengan kain sarung, sambil membuat arca kecil menggambarkan dirinya yang sedang kedinginan. Esoknya raja datang, tetapi justru menjadi senang melihat arca itu. Lalu mulailah bentuk-bentuk seperti itu dibuat untuk hulu keris yang menghiasi keris.

Hulu keris ini disebut Dewa Bayu, pada tangan kirinya memegang cermin sebagai simbol kekuatan Dewa Indra. Dewa Bayu merupakan simbolisasi untuk kemakmuran agraris karena dapat mengatur angin, mendorong awan di langit agar turun hujan yang membuat tanah subur.
Hulu keris ini disebut Dewa Bayu, pada tangan kirinya memegang cermin sebagai simbol kekuatan Dewa Indra. Dewa Bayu merupakan simbolisasi untuk kemakmuran agraris karena dapat mengatur angin, mendorong awan di langit agar turun hujan yang membuat tanah subur.

Toni Junus
About me:
Toni Junus is a kris designer and kris writer.
Implement the exhibition "Kris Kamardikan Award 2008" under the Panji Nusantara and Bentara Budaya Jakarta. As the chairman to held “Keris For The World 2010” exhibition, Panji Nusantara cooperated with> The Indonesian Cultural and Tourism Ministry at The National Gallery Indonesia, Jakarta.
Address :
Jl. Medan II, Blok F 79, Masnaga, Jaka Sampurna – Bekasi Selatan (17146).
HP. 0858 6621 3057.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar