Jumat, 09 Agustus 2013

Terapi Seni, Solusi Ekstra Bagi Skizofrenia


Trapi Seni (Foto: www.jawaban.com
Terapi Seni

www.jawaban.com Solusi Sehat - Rabu, 07 Agustus 2013 – Sampai dengan detik ini belum ada angka yang pasti dari lembaga kompeten mengenai berapakah jumlah penderita Skizofrenia di Indonesia. Meski begitu dapat diyakini bilangan kelompok ini belum lah sebanyak kelompok orang-orang yang menderita penyakit dalam seperti kanker maupun hepatitis.
Walau terhitung langka, skizofrenia juga bukan berarti tidak ada di sekitar kita. Oleh sebabnya, memberikan penanganan yang tepat kepada orang yang kita ketahui mengidap gangguan pada otak ini akan membantu proses pemulihan mereka menjadi seperti orang pada umumnya.
Menurut psikiater Margarita M. Maramis dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, psikoterapi seperti terapi seni, sangat penting diberikan kepada penderita untuk menunjang terjadinya efek brain plastisitas (memperbaiki sel-sel otak).
"Obat membantu secara kimiawi terjadinya pemulihan sel-sel otak. Adapun psikoterapi, seperti terapi seni, dibutuhkan untuk memberi isi pikir yang positif," kata Margarita sebagaimana dikutip dari doktersehat.com.
Senada dengan Margarita, Ahli psikologi klinis Monty Prawiratirta Satiadarma dari Universitas Tarumanagara, Jakarta, menyatakan terapi seni merupakan salah satu saluran menjaga keseimbangan hidup penderita Skizofrenia.
"Fantasi penderita skizofrenia ataupun bipolar sangat luar biasa. Jalur seni rupa paling bisa mewadahi," ujar Monty.
Adapun seni rupa yang cocok diberikan sebagai terapi bagi mereka yang memiliki gangguan mental serta motorik adalah seni rupa tiga dimensi seperti membuat patung dengan tanah liat atau adonan kertas (paper clay).
Sebagai diagnosis, sambung Monty, kita juga dapat memakai metode karya lukis dua dimensi. Jika si penderita di dalam pikirannya selama ini terdapat gambaran setan, kita bisa mengarahkan lewat lukisan agar ia mau mengubah isi dalam benaknya tersebut dengan bentuk yang lebih positif.
"Dengan terapi seni, kita ajak penderita mengubah isi pikiran, di mana gambaran setan diubah jadi malaikat," ungkapnya.
Monty meyakini karena seni mengutamakan unsur keindahan dan memiliki arah afektif maka ini bisa menjadi jembatan antara dunia luar dengan dunia dalam (batin) manusia.  Lewat seni, manusia bisa menjadi humanis dan peka terhadap lingkungan sekitarnya.

1 komentar:

Seni lebih fokus pada "Estetika" dan memiliki arah afektif maka ini bisa menjadi jembatan antara dunia luar dengan dunia dalam (batin) manusia. Lewat seni, manusia bisa menjadi humanistik dan peka terhadap lingkungan sekitarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar