Minggu, 06 November 2011

MENGAJAR HARUS DENGAN PERSIAPAN YANG MATANG by Slamet Priyadi

Siswa aktif  dalam proses  pembelajan
MINGU, 5 NOVEMBER 2011 – DENMAS PRIYADI BLOG – Suatu ketika saya mengajar tanpa persiapan yang matang di kelas. Saya sampaikan materi pelajaran kepada siswa di kelas berdasar apa yang ada dalam ingatan saja.  Saya merasa proses pembelajaran menjadi tersendat tidak berjalan lancar, materi pokok bahasan menjadi tidak teratur, terlalu verbalistik, dan membosankan. Hal tersebut bisa saya lihat dari sikap siswa yang apatis, ada yang mengobrol, bercanda, izin buang air kecil, dan lain sebagainya.  Menyikapi situasi seperti ini maka saya putuskan untuk tidak melanjutkan proses pembelajaran, saya sampaikan kepada siswa:

“ Baik anak-anak! Hari ini bapak merasa tidak enak badan, jadi tidak siap untuk melanjutkan materi pelajaran, akan tetapi kalian harus menyelesaikan tugas-tugas yang belum diselesaikan atau memperbaiki nilai-nilai yang masih belum tuntas.”

“ Ya, pak! Baik, pak! Kami melihat memang bapak sepertinya tidak siap menyampaikan materi pelajaran, penyajian materi banyak kami tidak mengerti karena tidak jelas apa yang bapak maksudkan! ”
Demikianlah jawaban siswa,  secara serempak mereka menjawab.

“ Baik! Terimakasih atas kritik kalian, bapak menyadari memang seperti itulah adanya, dan selanjutnya itu tidak akan terjadi lagi. Selanjutnya selesaikanlah tugas-tugas kalian yang nilainya masih belum tuntas! ” 
Nah! Itu hanya sebuah pengalaman dari saya, dimana saya tidak mempersiapkan materi pembelajaran dengan matang, dan semata-mata hanya mengandalkan daya ingat dan pengalaman mengajar saja.

Dari pengalaman tersebut di atas ada pelajaran yang bisa saya peroleh, yaitu :
1.    Mengajar harus dengan persiapan yang matang baik  persiapan kognitif, afektif dan psikomotorik.
2.    Mengajar harus terencana, terstruktur, interaktif, inovatif, dan efektif. Terutama dalam intonasi, dan   artikulasi. Ucapan vocal harus keras dan jelas.
3.    Mengajar harus disajikan melalui pendekatan psikologis, individual dan social
4.    Mengajar harus dengan strategi, metode, dan alat bantu (media) pembelajaran
5.    Mengajar harus ada evaluasi baik evaluasi kepada siswa maupun kepada diri sendiri sebagai guru. Hal ini dilakukan sebagai koreksi ke dalam. Sampai sejauh manakah materi pembelajaran bisa ditangkap siswa, dan sampai sejauh mana pengembangan serta peningkatan kemampuan guru dalam mengajar. [ <SP> ] 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar