WARTA GOOGLE

Loading...

Selasa, 31 Juli 2012

Guru yang Profesional dan Efektif


Thursday, 12 February 2009 17:45
Hits: 7493
Pada era otonomi pendidikan, pemerintah daerah memiliki kewenangan yang amat besar bagi penentuan kualitas guru yang diperlukan di daerahnya masing-masing. Oleh karena itu di masa yang akan datang, daerah benar-benar harus memiliki pola rekrutmen dan pola pembinaan karier guru agar tercipta profesionalisme pendidikan di daerah.
Dengan pola rekrutmen dan pembinaan karier guru yang baik, akan tercipta guru yang profesional dan efektif. Untuk kepentingan sekolah, memiliki guru yang profesional dan efektif merupakan kunci keberhasilan bagi proses belajar-mengajar di sekolah itu. Bahkan, John Goodlad, seorang tokoh pendidikan Amerika Serikat, pernah melakukan penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa peran guru amat signifikan bagi setiap keberhasilan proses pembelajaran. Penelitian itu kemudian dipublikasikan dengan titel: Behind the Classroom Doors, yang di dalamnya dijelaskan bahwa ketika para guru telah memasuki ruang kelas dan menutup pintu-pintu kelas itu, maka kualitas pembelajaran akan lebih banyak ditentukan oleh guru. Hal ini sangat masuk akal, karena ketika proses pembelajaran berlangsung, guru dapat melakukan apa saja di kelas. Ia dapat tampil sebagai sosok yang menarik sehingga mampu menebarkan virus nAch (needs for achievement) atau motivasi berprestasi, jika kita meminjam terminologi dari teorinya McCleland. Di dalam kelas itu seorang guru juga dapat tampil sebagai sosok yang mampu membuat siswa berpikir divergent dengan memberikan berbagai pertanyaan yang jawabnya tidak sekedar terkait dengan fakta, ya-tidak. Seorang guru di kelas dapat merumuskan pertanyaan kepada siswa yang memerlukan jawaban secara kreatif, imajinatif – hipotetik, dan sintetik (thought provoking questions). 
Sebaliknya, dengan otoritasnya di kelas yang begitu besar itu, bagi seorang guru juga tidak menutup kemungkinan untuk tampil sebagai sosok yang membosankan, instruktif, dan tidak mampu menjadi idola bagi siswa di kelas. Bahkan dia juga bisa berkembang ke arah proses pembelajaran yang secara tidak sadar mematikan kreativitas, menumpulkan daya nalar, mengabaikan aspek afektif, dan dengan demikian dapat dimasukkan ke dalam kategori banking concept of education-nya Paulo Friere, atau learning to have-nya Eric From. Pendek kata, untuk melindungi kepentingan siswa, dan juga untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) di daerah dalam jangka panjang di masa depan, guru memang harus profesional dan efektif di kelasnya masing-masing ketika ia harus melakukan proses belajar-mengajar.
Dalam konteks otonomi pendidikan, hasil penelitian John Goodlad tersebut memiliki implikasi bahwa pemerintah daerah perlu menciptakan sebuah sistem rekrutmen dan pembinaan karier guru agar para guru benar-benar memiliki profesionalisme dan efektivitas yang tinggi supaya ketika ia memasuki ruang kelas mampu menegakkan standar kualitas yang ideal bagi proses pembelajaran. Suatu pekerjaan dikatakan profesional jika pekerjaan itu memiliki kriteria tertentu. Jika kita mengikuti pendapat Houle, ciri-ciri suatu pekerjaan yang profesional meliputi: (1) harus memiliki landasan pengetahuan yang kuat; (2) harus berdasarkan atas kompetensi individual (bukan atas dasar KKN-pen.); (3) memiliki sistem seleksi dan sertifikasi; (4) ada kerjasama dan kompetisi yang sehat antar sejawat; (5) adanya kesadaran profesional yang tinggi; (6) memiliki prinsip-prinsip etik  (kode etik); (7) memiliki sistem sanksi profesi; (8) adanya militansi individual; dan  (9) memiliki organisasi profesi. Dari ciri-ciri ini Kantor Dinas Pendidikan di daerah dapat menterjemahkan ke dalam sistem rekrutmen dan pembinaan karier guru agar profesi-onalisme guru dapat selalu ditingkatkan di daerahnya masing-masing. Tanpa berbuat seperti itu kualitas guru akan selalu ketinggalan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kata lain, agar guru tetap profesional perlu ada sistem pembinaan karier yang baik, tersistem, dan berkelanjutan.
Guru yang profesional perlu melakukan pembelajaran di kelas secara efektif. Kemudian, bagaimana ciri-ciri guru yang efektif ? Menurut Gary A. Davis dan Margaret A. Thomas, paling tidak ada empat kelompok besar ciri-ciri guru yang efektif. Keempat kelompok itu terdiri dari: Pertama, memiliki kemampuan yang terkait dengan iklim belajar di kelas, yang kemudian dapat dirinci lagi menjadi (1) memiliki keterampilan interperso-nal, khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati, penghargaan kepada siswa, dan ketulusan; (2) memiliki hubungan baik dengan siswa; (3) mampu menerima, mengakui, dan memperhatikan siswa secara tulus; (4) menunjukkan minat dan antusias yang tinggi dalam mengajar; (5) mampu menciptakan atmosfir untuk tumbuhnya kerja sama dan kohesivitas dalam dan antar kelompok siswa; (6) mampu melibatkan siswa dalam meng-organisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran; (7) mampu mendengarkan siswa dan menghargai hak siswa untuk berbicara dalam setiap diskusi; (8) mampu meminimal-kan friksi-friksi di kelas jika ada.
Kedua, kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen pembelajaran, yang meliputi: (1) memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menangani siswa yang tidak memiliki perhatian, suka menyela, mengalihkan pembicaraan, dan mampu memberikan transisi substansi bahan ajar dalam proses pembelajaran; (2) mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berpikir yang berbeda untuk semua siswa.
Ketiga, memiliki kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik (feedback) dan penguatan (reinforcement), yang terdiri dari: (1) mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon siswa; (2) mampu memberikan respon yang bersifat membantu terhadap siswa yang lamban belajar; (3) mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban siswa yang kurang memuaskan; (4) Mampu memberikan bantuan profesional kepada siswa jika diperlukan.
Keempat, memiliki kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri, terdiri dari: (1) mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif; (2) mampu mem-perluas dan menambah pengetahuan mengenai metode-metode pengajaran; (3) mampu memanfaatkan perencanaan guru secara kelompok untuk menciptakan dan mengembang-kan metode pengajaran yang relevan.

Pemecahan Masalah dan Pengambilan Keputusan


Kita memecahkan masalah dan membuat keputusan setiap hari dan sepanjang hari:
di rumah, ditempat kerja, di tempat bermain, bahkan di toko pangan.
Beberapa masalah dan keputusan sangat menantang,
dan membutuhkan sejumlah pemikiran, emosi, dan penelitian.Langkah-langkah pedoman ini dirancang untuk membantu Anda untuk membuat keputusan yang baik.
Selamat beruntung!
keleluasaan
Prosedur ini tampak seperti kalau seseorang bergerak teratur langkah demi langkah. Bukan hal ini yang dimaksud. Langkah-langkah ini memudahkan mempersiapkan suatu struktur kerja terhadap permasalahan . Semua ini tumpang tindih, dan Anda boleh kembali pada langkah awal atau mengerjakannya secara serentak, sejauh anda pikir sebagai pemecahan yang terbaik.

Contoh Fleksibilitas (kelenturan):
  • Informasi terjadi di semua langkah— berawal dari pengenalan masalah dan penerapan pemecahannya.
  • Informasi baru dapat mendorong Anda untuk mendifinisikan kembali permasalahan.
  • Alternatif mungkin tidak dapat dikerjakan, dan Anda harus menemukan sesuatu yang lain.
  • Beberapa langkah mungkin digabungkan atau disederhanakan.
Mendifinisikan Permasalahan/Masalah
Apa yang menghalangi Anda untuk mencapai tujuan?
Anda harus dapat menerangkan permasalahan di dalam terminologi yang luas selama permasalahan yang tepat tidak jelas
*Anda mungkin kekurangan informasi untuk mendifinisikannya
* Anda dapat mengacaukan simpton dengan menggarisbawahi penyebab-penyebab. 

Siapkan sebuah pernyataan permasalahan dan temukan seseorang yang Anda percaya untuk mengujinya dan membicarakannya. Kalau permasalahan adalah situasi pekerjaan, diuji dengan pembimbing Anda melalui komisi atau sumber yang sesuai.
Pertimbangkan pertanyaan-pertanyaan ini :
  • Apa masalahnya?
  • Apakah masalah saya?
  • Dapatkah saya memecahkannya? Apakah sulit dipecahkan?
  • Apakah benar-benar masalah, atau cenderung sebagai simpton yang luas?
  • Kalau ini suatu masalah lama, apa yang salah dengan penyelesaian sebelumnya?
  • Apakah itu membutuhkan pemecahan secepatnya, atau dapatkah ditunda?
  • Itu seperti menghindar dari permasalahan itu sendiri?
  • Dapatkah saya mengesampingkan resiko?
  • Apakah permasalahan mengandung dimensi etik?
  • Dengan kondisi bagaimana penyelesaian itu harus memuaskan?
  • Apakah penyelesaian berpengaruh terhadap sesuatu yang tidak seharusnya diubah?
Mengumpulkan Informasi
Fakta & Data
  • Penelitian
  • Hasil dari percobaan dan studi
  • Wawancara terhadap ahli dan sumber yang dipercaya.
  • Kejadian-kejadian yang diobservasi, masa lalu atau kini, termasuk observasi perorangan dan laporan
Batas-batas
Batas-batas atau kendala situasi sulit diubah. Kekurangan dana atau sumber-sumber lain. Bila suatu pemecahan diliputi begitu banyak kendala, kendala itu sendiri mungkin juga menjadi masalah.
Pendapat dan Praduga (asumsi).  Pendapat pengambil keputusan, komite atau kelompok, atau kelompok lain yang kuat akan sangat penting untuk menyukseskan keputusan Anda. Hal ini penting untuk mengakui kebenaran, penyimpangan, atau prasangka di dalam suatu pendapat.
Praduga dapat menghemat waktu dan kerja selama sering kesulitan memperoleh semua fakta. Mengakui sesuatu yang diterima dengan keyakinan. Praduga juga ada faktor resikonya, yang harus diakui, dan semua itu akan hilang jika diuji secara keliru.



Sabtu, 21 Juli 2012

KYAI SINGALODRA By J.Dananjaya


SENIN, 16 APRIL 2012 - SITA BLOG - Diceritakan, daerah Cilacap acapkali disatroni para perampok dan para penjahat. Mereka menyerang dengan membabi buta, merampas harta benda, membunuh dengan sadis bagi siapa saja yang melawan mereka.

Pasukan keamanan Kadipaten Cilacap tidak mampu menghalau para perampok dan penjahat yang sering menggasak harta benda para penduduk. Jumlah pasukan keamanan sangat sedikit jika dibanding dengan para perampok yang begitu besar. Akibatnya, banyak para penduduk yang berpindah ke kampung lain yang lebih aman. Mereka pergi mengungsi untuk mencari daerah lain karena di daerahnya sudah tidak bisa lagi hidup tenang, aman dan tentram.

Menghadapi persoalan ini Adipati Cilacap menjadi sangat gelisah. Akhirnya, ia melaporkan keadaan itu kepada Sri Sunan Solo. Ia mengharap agar memperoleh bala bantuan guna mengamankan daerahnya.
Mendengar laporan ini Sri Sunan segera mengirimkan pasukan keamanan di bawah pimpinan Kyai Singalodra, Kyai Jayabaya, dan Jogolaut. Mereka semua merupakan prajurit-prajurit pilihan yang memiliki kemampuan Kanuragan yang tinggi dan mumpuni. Sejak dikirimkannya pasukan-pasukan keamanan dibawah pimpinan Kyai Singalodra, keamanan di Kabupaten Cilacap berangsur-angsur semakin membaik. Para penjahat sedikit demi sedikit mulai meninggalkan daerah operasi mereka, ada yang kembali ke kampung halaman mereka di luar pulau Jawa.

Akan tetapi, pada suatu ketika tiba-tiba datang sekawanan perampok dalam jumlah yang sangat besar. Mereka menyerang secara menggebu-gebu namun semuanya masih bisa diatasi, mereka tak mampu mengalahkan kedigjayaan Kyai Singalodra, Kyai Jayabaya, dan Jogolaut. Mereka semua dapat dihalau, banyak di antara mereka yang mati dan banyak pula yang lari tunggan langgang meninggalkan Cilacap. Rupanya dari sebagian mereka ada sekelompok kecil yang selamat menyembunyikan diri. Kelompok inilah yang berencana untuk membalas dendam pada Kyai Singalodra dengan mencari kesempatan saat Kyai Singalodra lengah.

Suatu ketika saat Kyai Singalodra berjalan sendiri mengadakan pemeriksaan dengan membawa lima buah kelapa yang merupakan kesenangannya, ia disergap dari belakang oleh kawanan perampok yang mempunyai dendam pada Kyai Singalodra. Mereka membunuh Kyai Singalodra secara pengecut dan keji dengan membatainya dari belakang.

Setelah kejadian yang tragis dan menyedihkan itu, Kadipaten Cilacap semakin diperketat keamanannya. Pimpinan diambil alih oleh Kyai Jayabaya dan Jogolaut yang terus menggejar para perampok yang telah membantai Kyai Singalodra dan menangkap mereka dan memberikan hukuman yang setimpal. Bagi mereka yang melawan tewas di tangan Kyai Jayabaya dan Jogolaut. Sebagian dari para perampok itu ada yang insyaf menjadi orang baik-baik dan tetap tinggal di Kadipaten Cilacap. Mereka membangun sebuah perkampungan yang diberi nama Kampung Penjagaan. Perkampungan Penjagaan ini terdiri dari Kampung Mutaian, Klaces, Ujung Gagak, dan Ujung Alang. Kesemuanya didirikan di atas laut.

Menurut cerita penduduk setempat kisah ini dipercaya memang pernah terjadi, dan merekapun dapat menunjukkan makam Kyai Singalodra yang sampai kini masih dikramatkan orang. Pada saat-saat tertentu terutama pada setiap hari Selasa dan Jumat Kliwon masih banyak orang-orang yang berziarah ke makam Kyai Singalodra untuk memohon berkah.

Konon kabarnya, menurut kepercayaan penduduk setempat, mereka sering melihat seekor harimau gaib berwarna putih yang sering muncul pada hari-hari kramat, malam Selasa dan malam Jumat Kliwon di sekitar makam Kyai Singalodra. Dan harimau putih tersebut merupakan jelmaan dari Kyai Singalodra. (Sita 06)

Rabu, 11 Juli 2012

"PTK SENI MUSIK 2" Drs Slamet Priyadi


Belajar Menulis Notasi Balok

BAB I  P E N D A H U L U A N

A.          L a t a r  B e l a k a n g  M a s a l a h
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat di abad ini berpengaruh besar terhadap  perkembangan musik.  Untuk menikmati musik, sekarang ini kita tak perlu lagi pergi ke gedung-gedung pertunjukkan. Sekarang, kita dapat menikmati musik di mana saja melalui radio, tape, vcd, HP, televisi, dll. Nampaknya musik sudah begitu dekat dan akrab bahkan tak bisa dipisahkan lagi dengan kehidupan manusia saat ini.  Semua itu, tentu saja karena berkat adanya para kreator musik, apresiator dan para pemain musik yang telah mengungkapkan, mengekspresikan kreatifitas dan keterampilannya serta apresiasinya terhadap musik. Untuk itu memang sangatlah perlu meningkatkan keterampilan musik sejak dini terhadap siswa di sekolah khususnya di jenjang sekolah menengah atas, sebagai bekal keterampilan siswa di masa depan.
Musik adalah ungkapan gagasan, ide atau ungkapan perasaan jiwa manusia yang estetis dan bermakna yang diwujudkan melalui media “nada” (suara) baik musik vocal maupun musik instrumental yang ditata dengan prinsip-prinsip tertentu. Matius Ali ( 2006 : 5 ) .  Musik adalah pernyataan isi hati manusia yang diungkapkan dalam bentuk bunyi yang teratur dengan melodi dan ritme serta mempunyai unsur harmoni atau keselarasan yang indah. Hadi Sunarko (1987: 7) Salah satu contoh bentuk ungkapan perasaan jiwa tersebut adalah lagu-lagu yang sering kita dengar baik dari media televisi, radio, HP atau dari pertunjukan musik secara langsung. Sebagai salah satu bagian dari seni pertunjukan dengan media  suara (nada) sebagai medium bakunya, seni musik sangat membutuhkan skill dengan penguasaan, kecakapan, dan keterampilan khusus, seperti keterampilan dalam hal memainkan instrumen musik, membaca notasi musik, baik notasi angka maupun notasi balok. Hal inilah yang menjadi permasalahan terhadap pembelajaran seni musik di SMA Negeri 42 khususnya siswa kelas X 4. Keterampilan siswa dalam membaca notasi musik terutama notasi angka masih sangat rendah. Ini penulis ketahui setelah melakukan pretes sebelum penelitian tindakan kelas, hanya 8 siswa atau 20 % saja yang mampu membaca dan menulis notasi angka dari jumlah siswa sebanyak 40 orang.  Pretes dilakukan dengan menunjuk siswa secara langsung untuk menyanyikan lagu  “Ki Hajar Dewantara” dengan membaca notasinya di papan tulis. Kesulitan siswa dalam membaca notasi angka terutama pada tingkat pemahaman bentuk dan nilai not, bunyi nada yang digunakan dalam notasi angka seperti bunyi nada do – re – mi – fa – sol – la – si – do, bagaimana membaca dengan ketukan birama not 1/4, 1/2, 1/8, dan lain-lain. Hal ini seperti nampak pada gambar berikut :

Berikut adalah data hasil pretes dan hasil angket siswa yang penulis lakukan sebelum tindakan kelas pada pertemuan tatap muka hari Senin, 27 Febuari 2012 .
( L a m p i r a n  B 1 )
            
Dari pernyataan nomor 1.  Pelajaran seni musik harus disajikan dalam suasana pembelajaran yang aktif dan kreatif.  Diperoleh hasil 30 = 75,00 % siswa setuju dan 10 = 25,00 % sangat setuju. Ini berarti  seluruh siswa sebanyak 40 = 100 % siswa menghendaki pembelajaran seni musik yang aktif dan kreatif.
Selanjutnya dari  pernyataan  nomor 2. Penyajian guru dalam menyampaikan materi pelajaran seni musik cukup menarik dan menyenangkan. Diperoleh 10 siswa = 25,00 % setuju, 5 siswa = 12,50 % sangat setuju.  Sedangkan 25 siswa = 62,50 % memilih tidak setuju.  Pada   pernyataan  nomor 3.  yang  berkait  dengan  alat   peraga,   guru menggunakan media pembelajaran seperti TIK, pianika, gitar, keyboard,power point, diperoleh 15 = 32,50 % siswa setuju, 5 = 12,50 % siswa sangat setuju, dan 20 = 50% siswa tidak setuju. Berikutnya pada pernyataan nomor 4. Penyampaian materi pembelajaran seni musik yang disampaikan guru jelas dan mudah dicerna. Diperoleh hasil, 10 = 25,00 % siswa memilih setuju, dan 2 = 5,00 % siswa sangat setuju. Sedangkan 28 siswa = 60 % siswa tidak setuju. Selanjutnya pada pernyataan nomor terakhir, nomor 5. Tugas-tugas seni musik yang diberikan guru terlalu sukar dan sulit dilaksanakan.  Hasil yang diperoleh adalah sebanyak 20 = 50 % siswa setuju, 10 = 25,00 % siswa sangat setuju, dan 10 = 25,00 siswa menyatakan tidak setuju. ( Lampiran B 2 )

Kesimpulannya adalah bahwa siswa kelas X 4 masih kurang memahami dan belum mengerti sepenuhnya dengan apa yang di sampaikan guru dalam menyampaikan  materi pembelajaran seni musik. Hal ini penulis sadari karena materi pelajaran notasi musik (notasi angka), sebelumnya memang belum diberikan secara lengkap, menggunakan media pembelajaran, dan hanya bersifat verbalistik.
Mengacu pada permasalahan tersebut di atas, maka penulis akan menggunakan metode demonstrasi untuk diterapkan dalam proses kegiatan pembelajaran seni musik. Dengan harapan penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran seni musik, dapat meningkatkan keterampilan membaca notasi musik yang sudah barang tentu sekaligus juga dapat meningkatkan keterampilan bermain musik  siswa kelas X 4.
 Sebagaimana kita ketahui metode demonstrasi adalah metode pembelajaran yang penyajiannya lebih mengutamakan peragaan dan praktik dengan latihan-latihan yang terus menenrus secara berkelanjutan. Lain daripada itu dalam metode demonstrasi, juga ditunjukkan tentang suatu proses penyampaian materi pembelajaran secara faktual baik dalam bentuk sebenarnya atau tiruan. Bahan Ajar Pendidikan Dan Latihan Profesi Guru ( 2009 : 24 ). Jelasnya, dengan peragaan, latihan dan praktik yang dilakukan oleh guru dalam menyampaikan materi pembelajaran notasi musik dan oleh siswa dalam mengungkapkan dan mempraktikkan apa yang sudah diterimanya dari guru dengan latihan-latihan yang dilakukannya akan berpengaruh besar dalam meningkatkan keterampilan membaca notasi musik, khususnya notasi angka.    Sedangkan “Musik” tanpa latihan, praktik dan peragaan adalah mustahil.  Oleh karena itu dalam  “Penelitian Tindakan Kelas” ( PTK ) ini, penulis menentukan judul penelitian adalah,
“Meningkatkan Keterampilan Membaca Notasi Angka  Siswa Kelas X 4 Dengan Metode Demonstrasi  Pada Pembelajaran Seni Musik Di SMA Negeri 42 Jakarta Tahun Pelajaran 2011/2012”


B.           R u m u s a n  M a s a l a h
“Apakah penggunaan metode demonstrasi dapat meningkatkan keterampilan membaca notasi angka siswa kelas X 4 SMA Negeri 42 Jakarta pada kompetensi dasar menggelar pertunjukan musik kelas tahun pelajaran 2011 / 2012 ? ”
C.          T u j u a n  P e n e l i t i a n
Secara umum tujuan belajar seni musik  ( notasi musik ) di SMA pertama-tama adalah agar siswa mampu membaca suatu karya musik tertulis. Dengan kemampuan dan keterampilan membaca notasi musik yang dimilikinya itu, diharapkan siswa dapat menampilkan karya musik secara tepat sesuai dengan apa yang dikehendaki penciptanya.
Tujuan selanjutnya adalah agar siswa akrab, terbiasa, dan terasa lebih familiar dengan bahasa musik sehingga mereka terampil membaca notasi dan menuliskan ide atau gagasan musiknya melalui bahasa musik dengan notasi musik yang ditulisnya. Dengan demikian, mereka dapat mendokumentasikan karya-karyanya itu secara literer, dalam bentuk notasi dengan tepat dan lebih mudah. Tim Seni Musik SMA ( 1999 : 78 )  Oleh karena itu  tujuan yang ingin penulis capai dalam penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan Keterampilan Membaca Notasi Angka  Siswa Kelas X 4 Dengan Metode Demonstrasi  Pada Pembelajaran Seni Musik Di SMA Negeri 42 Jakarta Tahun Pelajaran 2011/2012.
D.          M a n f a a t  P e n e l i t i a n
1.      Manfaat Teoritis :  a. Memperoleh  pengetahuan  yang  cukup  tentang  keefektifan penggunaan metode demonstrasi dalam meningkatkan keterampilan membaca notasi musik.  b. Memiliki pengetahuan yang cukup tentang metode demonstrasi sebagai dasar untuk melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) selanjutnya.
2.      Manfaat Praktis Bagi Siswa :
a.       Meningkatkan keterampilan siswa dalam hal membaca notasi musik baik notasi angka maupun notasi balok.
b.      Meningkatkan keterampilan siswa dalam bermain musik baik musik vocal maupun instrumental.
c.       Dengan penggunaan metode demonstrasi siswa lebih tertarik, dan lebih cepat menangkap serta memahami materi pelajaran karena siswa langsung bisa melihat peragaan yang ditampilkan guru. Dan, merekapun bisa langsung mempraktikkannya secara langsung materi pelajaran tadi.
3.      Manfaat Bagi Guru
a.       Menambah wawasan ilmiah dalam meningkatkan kompetensi diri menuju profesionalisme,
b.    Menemukan alternatif umpan balik untuk mnengetahui kesulitan siswa dalam membaca notasi musik pada pembelajaran seni musik.
c.     Mengetahui betapa besar pengaruh metode demonstrasi dalam meningkatkan keterampilan membaca notasi musik pada pelajaran seni musik kompetensi dasar menggelar pertunjukan musik kelas.
d.    Dengan menggunakan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran seni musik dapat menambah wawasan baru dan meringankan tugas guru  dalam mengajar karena siswa bisa berlatih berulang-ulang mendemonstrasikan membaca notasi musik dan lagu yang dipelajarinya.
4.   Manfaat Bagi Sekolah 
1.    Sebagai bahan kajian dan masukan untuk peningkatan mutu sekolah.
2.    Mewujudkan misi dan visi sekolah sebagai Institusi yang selalu      berupaya untuk meningkatkan prestasi akademik.
3.   Memperbanyak media pembelajaran yang kreatif dan inovatif sebagai sarana yang aktif, efisien, dan menyenangkan.
Dengan menggunakan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran  seni musik, sekolah dapat mengembangkan metode pembelajaran sebagai solusi dari kesulitan-kesulitan atau masalah- masalah pembelajaran di kelas.

FESTIVAL LUKISAN TUBUH SEDUNIA

PEDOMAN KOMENTAR
Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.
Berikan komentar... Pedoman Mengirim Komentar
your avatar

5 komentar