Minggu, 02 Oktober 2011

METODE DISKUSI by Slamet Priyadi ( APRESIASI DAN KREASI GURU)

Diskusi kelompok kelas XII IPS
Minggu, 2 Oktober 2011 - Guru Seni Budaya Blog - Metode diskusi adalah salah satu metode pembelajaran yang menekankan pada permasalahan sebagai satu tugas yang harus diselesaikan siswa. Dalam kata lain, metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu persoalan dengan tujuan intinya adalah untuk memecahkan suatu persoalan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa, serta membuat suatu keputusan. Metode diskusi bukanlah metode pembelajaran debat adu argumentasi melainkan diskusi lebih terfokus pada saling berinteraksi, bertukar informasi, dan saling bertukar pengalaman antar siswa dalam kelompoknya.

Memang tak bisa dipungkiri, masih banyak guru yang enggan untuk menggunakan metode diskusi ini di dalam proses pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan:

1. Metode diskusi sukar untuk diprediksi hasilnya
Sukar diprediksi hasilnya oleh karena interaksi antar siswa bersifat spontan, sehingga hasil dan arah diskusi sukar ditentukan.

2. Diskusi membutuhkan waktu yang panjang
DIskusi pada umumnya membutuhkan waktu yang cukup panjang sedangkan alokasi waktu pembelajaran di kelas sangat terbatas 90 menit, sehingga dengan demikian waktu yang terbatas itu tidak mungkin bisa menyelesaikan diskusi secara tuntas.

3. Materi pembelajaran dikonsep dan diorganisir oleh siswa sendiri
Berbeda dengan metode ceramah atau demonstrasi, pada metode diskusi materi atau bahan pembelajaran tidak dipersiapkan seelumnya oleh guru, melainkan ditentukan dan diorganisir oleh siswa sendiri. Guru hanya membinbing dan mengarahkan diskusi agar berjalan sebagaimana mestinya, sebab tujuan utama metode diskusi adalah bukan sekedar hasil belajar melainkan proses belajar.

Dalam diskusi pembelajaran dikenal ada dua jenis diskusi yaitu, diskusi kelompok dan diskusi kelompok kecil. Diskusi kelompok dikenal juga dengan sebutan diskusi kelas, yaitu suatu permasalahan yang disajikan guru dipecahkan sepenuhnya oleh siswa secara keseluruhan. Dalam diskusi kelompok ini guru hanya mengatur jalannya diskusi. Adapun dalam diskusi kelompok kecil, siswa dibagi dalam 3 sampai 7 orang dalam setiap kelompoknya. Proses jalannya diskusi dimulai dari guru yang menyajikan masalah dengan beberapa sub masalah. Pada akhir diskusi setiap kelompok membuat laporan tertulis dari setiap kelompoknya.

Jenis diskusi yang lain adalah Simposium dan Diskusi Panel. Simposium adalah metode mengajar yang mengkaji suatu permasalahan ditinjau dari berbagai sudut pandang. Metode Simposium ini dipakai untuk memberikan wawasan yang luas kepada siswa. Adapun Diskusi Panel adalah pengkajian suatu masalah yang dilakukan oleh beberapa orang panelis. Biasanya, terdiri dari 4 sampai 5 orang panelis yang berada di depan audiens. Berbeda dengan jenis diskusi yang lainnya, dalam diskusi panel audiens tidak ikut berpartisipasi untuk terlibat dalam diskusi, akan tetapi berperan hanya sebagai peninjau para panelis yang sedang berdiskusi. Dalam proses pembelajaran, seorang guru yang menggunakan metode ini sebaiknya di padu dengan metode lainnya seperti metode penugasan misalnya. hal ini dilakukan agar diskusi berjalan efektif, reaktif, dan interaktif tidak monoton. 

Menurut Bridges, jenis diskusi apapun yang digunakan guru dalam proses pembelajaran di kelas, guru harus mengelola kelas agar tercipta suasana yang kondusif, aktif, kreatif, Efektif dan menyenangkan. Keadaan yang sedemikian itu dimaksud agar:

   siswa dapat mengungkapkan gagasan dan pikirannya tanpa perasaan tegang
    siswa saling mendengar pendapat orang lain
    siswa saling berinteraksi memberikan tanggapa
•  siswa mencatat dan menginventarisir ide atau gagasan yang dianggap penting
                  •  siswa mampu mengembangkan pengetahuannya serta pikiran-pikiran yang muncul dalam diskusi

Lebih jauh Bridge menyatakan, metode diskusi merupakan salah satu metode pembelajaran yang bisa digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran berbasis pemecahan masalah. Strategi pembelajaran dengan metode diskusi ini bisa memotivasi siswa untuk dapat meningkatkan kemampuan berpikir ilmiah sekaligus mengembangkan pengetahuannya. ( Pustaka: Winarno Surakhmad.1999. Metodologi Pengajaran Nasional. Bandung:Jemmars )
Diposting by Slamet Priyadi di Lido - Bogor


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar