DESKRIPSI BLOK :

"ACUAN MATA PELAJARAN SENI BUDAYA DI SMA"

Minggu, 6 Maret 2011( http://denmaspriyadi.blogspot.com): Muatan seni budaya sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan tidak hanya terdapat dalam satu mata pelajaran karena budaya itu sendiri meliputi segala aspek kehidupan. Dalam mata pelajaran Seni Budaya, aspek budaya tidak dibahas secara tersendiri tetapi terintegrasi dengan seni. Karena itu, mata pelajaran Seni Budaya pada dasarnya merupakan pendidikan seni yang berbasis budaya.

Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan diberikan di sekolah karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta didik, yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi melalui pendekatan: “belajar dengan seni,” “belajar melalui seni” dan “belajar tentang seni.” Peran ini tidak dapat diberikan oleh mata pelajaran lain.

Pendidikan Seni Budaya memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual bermakna pengembangan kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif dengan berbagai cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai perpaduannya. Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi meliputi konsepsi (pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi, dan kreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika. Sifat multikultural mengandung makna pendidikan seni menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan mancanegara. Hal ini merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk.


Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan memiliki peranan dalam pembentukan pribadi peserta didik yang harmonis dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai multikecerdasan yang terdiri atas kecerdasan intrapersonal, interpersonal, visual spasial, musikal, linguistik, logik matematik, naturalis serta kecerdasan adversitas, kecerdasan kreativitas, kecerdasan spiritual dan moral, dan kecerdasan emosional.

Bidang seni rupa, musik, tari, dan teater memiliki kekhasan tersendiri sesuai dengan kaidah keilmuan masing-masing. Dalam pendidikan seni budaya, aktivitas berkesenian harus menampung kekhasan tersebut yang tertuang dalam pemberian pengalaman mengembangkan konsepsi, apresiasi, dan kreasi. Semua ini diperoleh melalui upaya eksplorasi elemen, prinsip, proses, dan teknik berkarya dalam konteks budaya masyarakat yang beragam.

B. Tujuan
Mata pelajaran Seni Budaya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Memahami konsep dan pentingnya seni budaya
2. Menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya
3. Menampilkan kreativitas melalui seni budaya
4. Menampilkan peran serta dalam seni budaya dalam tingkat lokal, regional, maupun global.

C. Ruang Lingkup
Mata pelajaran Seni Budaya meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Seni rupa, mencakup keterampilan dalam menghasilkan karya seni rupa murni dan terapan
2. Seni musik, mencakup kemampuan untuk menguasai olah vokal, memainkan alat musik, berkarya dan apresiasi karya musik
3. Seni tari, mencakup keterampilan gerak berdasarkan eksplorasi gerak tubuh dengan dan tanpa rangsangan bunyi, berkarya dan apresiasi terhadap gerak tari
4. Seni teater, mencakup keterampilan olah tubuh, olah pikir, dan olah suara yang pementasannya memadukan unsur seni musik, seni tari dan seni peran.

Di antara keempat bidang seni yang ditawarkan, minimal diajarkan satu bidang seni sesuai dengan kemampuan sumberdaya manusia serta fasilitas yang tersedia. Pada sekolah yang mampu menyelenggarakan pembelajaran lebih dari satu bidang seni, peserta didik diberi kesempatan untuk memilih bidang seni yang akan diikutinya.

Minggu, 6 Maret 2011 Slamet Priyadi di Lido-Bogor


STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
By: Drs Slamet Priyadi

"STRATEGI PEMBELAJARAN" pada intinya adalah sketsa umum aktivitas guru dan murid di dalam merealisasikan kegiatan belajar mengajar. Maknanya, interaksi belajar mengajar berlangsung dalam satu sketsa yang dilaksanakan secara bersama-sama oleh guru dan murid. Dengan demikian boleh dirumuskan, strategi pembelajaran merupakan "sketsa umum pembelajaran subyek didik" yang tersusun secara sistematik berdasar acuan prinsip-prinsip pendidikan yaitu, strukturisasi urutan atau langkah-langkah pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, pengelolaan kelas, evaluasi, dan waktu yang digunakan untuk mencapai tujuan.

Strategi pembelajaran melalui pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang bisa membantu guru menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan realitas dunia nyata murid, dan mendorong murid membuat interaksi antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dalam kaitan ini siswa dapat menyadari sepenuhnya apa makna belajar, manfaatnya, bagaimana upaya untuk mencapainya dan dapat memahami bahwa yang mereka pelajari bermanfaat bagi hidupnya nanti. Sehingga mereka akan memposisikan diri sebagai diri mereka sendiri yang membutuhkan bekal hidupnya dan berupaya keras untuk meraihnya.

Adapun tugas guru dalam pembelajaran kontekstual adalah membantu siswa dalam meraih tujuannya. Artinya guru lebih fokus pada urusan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru dalam hal ini hanya memanage kelas sebagai sebuah tim yang bekerja untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Proses pembelajaran lebih diwarnai student centered ketimbang teacher centered .

Menurut DEPDIKNAS, guru harus melakukan beberapa hal berikut:

1) Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa,
2) Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian psikologis dan sosiologis,
3) Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang selanjutnya memilih dan menghubungkan dengan konsep atau teori yang akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual,
4) Merancang pembelajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki dan lingkungan hidup mereka.
5) Melaksanaka evaluasi terhadap pemahaman siswa, dimana hasilnya nanti dijadikanbahanrefleksi terhadap rencana pembelajaran dan pelaksanaannya.

MODEL PEMBELAJARAN "PAKEM"

By Slamet Priyadi


Belajar adalah proses individual, meskipun dalam penerapannya di sekolah kebanyakan ditata secara klasikal akan tetapi tetap, perhatian guru kepada siswa harus individual sebab setiap siswa masing-masing memiliki karakter dan ciri khas serta tingkat perkembangannnya sendiri.

Belajar juga merupakan proses social dalam pengertian, belajar di kelas secara bersama-sama dan memecahkan masalah secara kelompok. Ini akan saling menunjang dan saling membelajarkan. Dengan pengertian baik proses pembelajaran secara individual maupun klasikal, keduanya harus dikondisikan dalam suasana yang kondusif dan menyenangkan, sehingga siswa memiliki kesiapan mental untuk belajar.

Belajar juga adalah suatu proses yang berkelanjutan, terus menerus (continuesly) tiada henti. Dalam arti, belajar tentang sesuatu hal adalah sebagai batu loncatan atau pijakan untuk mempelajari hal-hal selanjutnya.

Belajar juga merupakan proses membangun makna. Dalam pengertian, setiap proses belajar harus bermakna buat siswa baik pertumbuhan fisik dan perkembangan jiwanya yang dibentuk dalam suasana yang menyenangkan baik bagi siswa maupun guru selaku pendidik Lain daripada itu, perubahan paradikma dari Mengajar menjadi Pembelajaran (teaching-learning), di dalam penilaian, proses dan hasil belajar harus berlangsung terus menerus dengan perbaikan-perbaikan pada setiap tahapannya (continues improvement).


Dengan demikian PAKEM memiliki arti dan makna pembelajaran yang dirancang agar dapat mengaktifkan siswa, mengembangkan kreatifitas siswa sehingga efektif akan tetapi tetap menyenangkan. Lain daripada itu, diharapkan juga bisa menciptakan suasana lingkungan belajar yang kondusif, bermakna, dan mampu membekali siswa suatu keterampilan, pengetahuan dan sikap dalam menghadapi kehidupan.


Kesimpulannya, PAKEM adalah pembelajaran yang menggunakan berbagai metode, media, melibatkan semua indra, dengan praktik, bekerja dalam tim, memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. PAKEM juga melibatkan multi aspek yaitu, aspek logika, kinestika, estetika, dan etika. Jelasnya pembelajaran ini memerlukan sekali keaktifan, kekreatifan, keefektifan dari siswa dan guru yang tentunya harus dikondisikan dam suasana lingkungan yang menyenangkan.


"AJARAN KI HAJAR DEWANTARA"

Ki Hajar Dewantara
dilahirkan pada tanggal 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ajarannya yang sangat terkenal dalam dunia pendidikan adalah yang berkait dengan karakter yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin, yaitu:


1. ING NGARSO SUNG TULODO
Artinya bahwa seorang pemimpin haruslah mempuanyai sikap dan prilaku yang baik dan menjadi contoh suri tauladan bagi masyarakat.

2. ING MADYO MANGUN KARSO
Artinya bahwa seorang peminpin ketika berada di tengah-tengah masyarakat haruslah dapat menciptakan peluang-peluang agar masyarakat dapat berkarya dengan baik.

3. TUT WURI HANDAYANI
Artinya bahwa seorang pemimpin ketika berada di belakang haruslah menjadi pendorong semangat, menjadi motivator bagi nmasyarakat.
Ki Hajar Dewantara wafat pada tanggal 28 April 1959. Ia dikenal sebagai "Bapak Pendidikan Nasional" dan hari kelahirannya diperingati sebagai "HARI PENDIDIKAN NASIONAL".



Senin, 24 Oktober 2011

"PERISTIWA PENCURIAN JENAZAH NABI YANG GAGAL by Slamet Priyadi

SENIN, 24 OKTOBER 2011 - DENMAS PRIYADI BLOG – Peristiwa ini terjadi pada saat Perang Salib berkecamuk antara pasukan Islam dan Kristen ( 1096 - 2073 M ).

SULTAN NOURUDDIN ZENGKY
Sultan Nouruddin Zengky dari Syria yang ikut serta dalam peperangan itu, pada suatu malam bermimpi. Dalam mimpinya itu Sultan bertemu Nabi Muhammad S.A.W seraya menunjuk kepada dua orang lelaki, dan berkata: “Lepaskan aku dari dua orang ini!”  Sultan terkejut dan terjaga dari tidurnya, kemudian beliau berwuduk dan sholat sunnat. Setelah sholat sunnat, sultanpun tidur kembali, akan tetapi mimpi yang sama itupun kembali terulang. Sultanpun bangun kembali dan berwuduk lalu shollat sunnat lagi. Setelah sholat iapun tidur kembali, namun mimpi yang sama itupun datang lagi dalam tidurnya. Mimpi yang berulang-ulang sampai tiga kali tersebut sangat mengguncangkan pikirannya, lalu iapun mengutarakan ikhwal mimpinya itu kepada Jamaluddin Al-Mushally, seorang wazir yang saleh. Mendengar cerita dari Sultan Nouruddin Zengky tentang mimpi yang dialaminya tersebut, Jamaluddin Al-Mushally berkata:
“Kenapa tuan masih di sini? Cepatlah kita berangkat ke Madinah, akan tetapi rahasiakanlah mimpi tuanku itu jangan sampai ada yang tahu!”

Ketika tengah malam mulai menjelang, berangkatlah Sultan Nouruddin dan Jamaluddin Al-Mushally bersama 20 orang pengawal dan pengiringnya dengan membawa pundi-pundi mata uang emas, permata yang mahal-mahal.

Singkat cerita, sampailah rombongan Sultan Nouruddin Zengky tersebut  di kota Madinah, setelah beristirahat sejenak lalu sultan mandi, berwuduk kemudian melakukan sholat. Tak lama kemudian ia memerintahkan kepada pengawalnya untuk memanggil semua penduduk kota dan mengatakan bahwa ia datang ke kota Madinah hanya untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad dan akan membagi-bagikan hadiah kepada seluruh penduduk kota Madinah terutama bagi mereka yang tidak mampu.   

Demikianlah, Sultan Nouruddin Zengky kemudian membagi-begikan sebagian harta yang dibawanya kepada penduduk kota Madinah, dan semua merata masing-masing mendapatkan bagiannya. Akan tetapi ada 2 orang lelaki yang tidak mau menerima pemberian dari sultan tersebut, dan hal ini merupakan keanehan tersendiri yang mengundang pertanyaan di hati sultan, karena bukan suatu yang menjadi kebiasaan dari penduduk kota untuk menolak pemberian sultan.  Mendapati keanehan ini, Sultan Nouruddin Zengky kemudian memerintahkan pengawalnya untuk memanggil ke dua orang lelaki tersebut untuk menghadapnya. Ketika sultan melihat wajah ke dua orang lelaki tersebut, ia teringat akan mimpinya, karena ke dua wajah lelaki itu sama persis dengan kedua orang lelaki yang ada dalam mimpinya yang ditunjuk oleh Nabi Muhammad S.A.W.

Menurut informasi dari para penduduk setempat, ke dua orang tersebut bukanlah dari Madinah melainkan pendatang yang berasal dari negeri Magribi, termasuk penduduk yang baik dan  saleh.  Keduanya sering sholat di Raudhah Nabi kemudian ziarah ke hujrah Nabi. Keduanyapun dikenal pemurah, sering berpuasa, dan membagi-bagikan sebagian hartanya kepada fakir miskin.

Mendengar laporan ini Sultan Nouruddin Zengky belum merasa puas, ia masih mencurigai kedua orang tersebut, ada apa di balik segala sikap kebaikannya? Sebab di dalam mimpinya Nabi Muhammad berulang-ulang bahkan sampai tiga kali agar menyelamatkan beliau dari kedua orang ini. Oleh sebab itu untuk mengetahui dengan mata kepala sendiri dengan apa sebenarnya yang telah diperbuat di Madinah, sultanpun pergi sendiri ke rumah kedua orang lelaki itu untuk mengetahui keadaan sesungguhnya keadaan ruang dalam rumahnya.

Apa yang didapat disana, ternyata di dalam rumah tersebut terdapat banyak harta benda yang berlimpah, emas, perak, dan batu-batu permata yang mahal-mahal. Kemudian didapatinya pula sebuah lubang yang setelah diselidiki ternyata menuju ke hujrah Nabi (kubur Nabi).

Singkat cerita, kedua orang Magribi itu kemudian ditangkap, diperiksa dan diberi hukuman yang setimpal dengan kesalahan yang diperbuatnya menurut Islam.  Dalam pengakuannya ternyata mereka adalah bukanlah orang Islam melainkan orang Kristen yang sengaja dibayar oleh tentara Salib untuk menggali dan mencuri jenazah Nabi Muhammad S.A.W.

Setelah mendengar, melihat, dan menyaksikan sendiri peristiwa tersebut, alangkah terkejutnya umat Islam di kala itu, terasa gemetar sekujur tubuh mereka, geram sekali. Apa jadinya jika upaya mereka sampai berhasil mencuri jenazah Nabi, perlakuan ini sungguh tidak bisa ditolerir lagi, dan suatu perbuatan terkutuk yang tak bisa dimaafkan. Akhirnya kedua orang tersebut  mendapat hukuman setimpal yaitu dihukum mati.

Kiranya demikianlah ta’wil mimpi Sultan Nouruddin Zengky itu. Kemudian atas perintah beliau pula, di sekeliling hujrah Nabi digali sedalam-dalamnya sampai bertemu dengan lapisan tanah yang mengandung air. Kemudian galian tersebut diurug dengan lempengan dan bongkahan tembaga hingga penuh sampai di permukaan bumi. Sampai sekarang di sekeliling hujrah Nabi di dalamnya terdapat beton terbuat  tembaga. Hal ini dilakukan agar tidak timbul kekhawatiran di kalangan umat Islam, jenazah Nabi Muhammad S.A.W akan dicuri orang. [ PUSTAKA: C. ISRAR -  SEJARAH KESENIAN ISLAM - BULAN BINTANG 1978 ] 

0 komentar:

Poskan Komentar